Alm. Ida Bagus Kompiang (Ida Pedanda Ngurah Karang) Pionir Pariwisata Bali

Alm. Ida Bagus Kompiang (Ida Pedanda Ngurah Karang) Pionir Pariwisata Bali

Buku biografi Ida Bagus Kompiang-Anak Agung Mirah Astuti: Pasangan Pionir Pariwisata Bali karya I Nyoman Darma Putra mengungkap sejarah perkembangan pariwisata Bali dan menyodorkan fakta para pengusaha lokal pernah membuat konsorsium usaha sukses di masa lalu.

Hal tersebut terungkap penuturan , Ida Bagus Ngurah Wijaya putra sulung Ida Bagus Kompiang mengatakan aspek kewirausahaan dalam buku biografi ini dapat menjadi teladan generasi sekarang. “Apalagi, Pak Kompiang yang memulai bisnis perhotelan pada 1956 mengembangkannya dengan konsep pariwisata pro rakyat dan berkelanjutan, dua isu yang sangat aktual hingga saat ini,” ujarnya.

Ida Bagus Kompiang mendirikan Hotel Segara Village tahun 1956/57, sepuluh tahun lebih dulu daripada berdirinya Hotel Bali Beach Sanur. Hotel Segara Village masih terus hadir dan eksis dengan kategori bintang empat sampai sekarang. Sejak awal kehadirannya, Hotel Segara Village menciptakan program malam kesenian yang disebutkan dengan “Bali Night”, di mana hotel mementaskan kesenian Bali dan tamu-tamu menikmati hiburan sambil menikmati makan malam.

Tahun 1960, beliau mendapat kepercayaan dari Pemerintah Pusat untuk memimpin rombongan kesenian Bali dalam promosi ke luar negeri program “Indonesia Floating Fairs” (pameran dagang dan wisata di atas kapal laut), dengan tujuan Hawaii, Jepang, HongKong, Filipina, Thailand, dan Singapura. Tim kesenian Bali dari Sanur tampil di berbagai kota mempromosikan seni budaya dan pariwisata Bali.

Ida Bagus Kompiang juga tokoh pertama yang merintis pendirian organisasi PHRI Bali dan menjadi pemimpinnya. Beliau juga pernah bertahun-tahun menjadi Ketua LVRI (Legiaun veteran Republik Indonesia) Cabang Bali.

Semasa hidupnya, Ida Bagus Kompiang mendapat kepercayaan menjadi konsul kehormatan beberapa negara Skandinavia seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Denmark. Posisi sebagai konsul kehormatan itu diteruskan oleh anak dan cucunya.

Atas jasanya, Pemprov Bali melalui Dinas Pariwisata Bali memberikan beliau anugerah “Karya Karana Pariwisata” sebagai pelopor, tahun 2003. Jasa Ida Bagus Kompiang dalam pembangunan awal pariwisata Bali sangat besar. Beliau memainkan peranan penting sebagai peletak dasar bentuk pariwisata yang bertolak dan melestarikan kebudayaan.

Beliau adalah tokoh panutan, karena jasanya dan juga kesuksesannya mecetak generasi penerus bisnis pariwisata dalam keluarganya. Putra sulungnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya, tidak saja sibuk menjalankan bisnisnya tetapi setia mengabdi dalam organisasi profesi seperti menjadi ketua BTB/GIPI.

Lebih dari itu, dalam jenjang terakhir hidupnya, Ida Bagus Kompiang mengabdikan diri sebagai pedanda dan mendharmabhaktikan waktu dan tenaga beliau membangun Bali lewat dunia spiritual keagamaan.

ketokohan Ida Bagus Kompiang dan istri sangat nyata bagi perkembangan pariwisata Bali. Sebagai orang lokal pertama yang membangun hotel di Sanur, pasangan ini tahu betul kebutuhan dunia pariwisata sehingga mempersiapkan segala aktivitas pendukung dengan baik mulai kamar hotel, artshop, biro perjalanan, restoran dan aspek lainnya seperti pertunjukan seni.

Bukan hanya itu, lanjutnya, Kompiang yang juga veteran pejuang ini pada 1970-an pernah menolak pembangunan hotel besar-besaran di Nusa Dua jika tidak menyejahterakan rakyat. Sikap idealismenya sebagai pejuang sangat mewarnai sepak terjang di bidang usaha pariwisata. IB Kompiang juga disebut memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan secara holistik yang patut diteladani hingga kini.

Buku ini mengulas perjalanan merintis rumah penginapan pada 1956, buku ini mengungkap fakta sejarah bahwa pada 1960-an Ibu Kompiang telah memimpin delegasi kesenian ke luar negeri melalui Indonesian Floating Fair ke sejumlah Negara. IB Kompiang juga tercatat pernah menjadi konsul kehormatan empat Negara sekaligus

Suami istri ini juga memimpin beberapa asosiasi terkait pengusaha pariwisata dan dipercaya menjamu para tamu Negara. Pada 2008 Ida Bagus Kompiang dan istri madiksa menjadi Ida Pedanda Gde Ngurah Karang dan Ida Pedanda Istri Karang serta menyerahkan tongkat estafet kepada anak cucunya.

Mari berkomentar





CAPTCHA Image
Reload Image


1 Komentar