Pura-Pura Dang Kayangan Warisan Dang Hyang Dwijendra

Pura-Pura Dang Kayangan Warisan Dang Hyang Dwijendra

Berdasarkan lontar Dwijendra Tattwa, yang dalam penelitian ini ditetapkan sebagai babon kisah sejarah Dang Hyang Nirartha, yang dalam penuturan masyarakat Bali hal seperti ini biasa disebut dengan Sejarah Gede, disebutkan Pura Parama Dharma, yaitu pura-pura Dang Kahyangan yang dibangun atas petunjuk Dang Hyang Nirartha atau dibangunkan oleh para putra, cucu, cicit pratisentana atau masyarakat luas untuk menghormati dan mengenang dharmayatra (perjalanan suci siar keagamaan) Dang Hyang Nirartha disebutkan sejumlah 34 buah, sebagai berikut.

  1. Pura Purancak di daerah Jembrana. Pura ini berkaitan dengan Dang Hyang Dwijendra, tatkala beliau pertama kali menginjakkan kaki di tepi pantai Barat pulau Bali. Upacara piodalan jatuh pada hari Rabu, Umanis, Medangsia.

  2. Pura Rambutsiwi, di daerah Jembrana. Dang Hyang Dwijendra menyerahkan sehelai rambutnya (roma mas) untuk disimpan. Hari piodalan pada Buda Umanis Prangbakat.

  3. Pura Amertasari di Jembrana disungsung oleh masayarakat subak, sebagai stana Dang Hyang Dwijendra. Upacara piodalan Selasa Kliwon Prangbakat. Pura Amerthasari berhubungan dengan ajaran Dang Hyang Nirartha kepada masyarakat petani (mretiwi) untuk memuja kebesaran Sang Hyang Widhi dalam saktinya sebagai Dewi Sri (Dewi Manik Galih) yang memberikan kesuburan dan kesejahteraan kepada masyarakat luas.

  4. Pura Prapat Agung di daerah Jembrana, sebagai asal permandian Bhatara Sakti Dwijendra. Di tempat ini awal dan Dang Hyang Nirartha mempelajari dan menyelami peradaban masyarakat Bali.

  5. Pura Pohlaki (Pulaki) di daerah Buleleng, istana Bhatari Melanting, Perwujudan Uma Dewi, putri Dang Hyang Dwijendra. Upacara pujawali pada Purnama Kapat (sekitar bulan Oktober).

  6. Pura Pasanggrahan Bhatara Melanting, di hutan Blonjoh, wilayah Buleleng. Upacara pada hari Rabu Umanis Julungwangi.

  7. Pura di Kayuputih Buleleng. Dibangun oleh Bhatara Kumenuh, putra Mpu Nirartha. Upacara pada hari Kamis Umanis Pahang.

  8. Pura Kawitan Geria Resi, di desa Mundeh Kaba-Kaba Tabanan, bekas debu telapak kaki Bhatara Dwijendra. Upacara pada hari Rabu Umanis Tambir.

  9. Pura Tamansari atau Pura Bulakan, tempat permandian Bhatara Dwijendra di daerah Mengwi. Upacara jatuh pada setiap hari Purnama Kapat, sekitar bulan Oktober.

  10. Pura Pakendungan dan Tanah Lot di daerah Tabanan. Pura Persimpangan (persinggahan) Dang Hyang Dwijendra. Di atas batu lengser (batu berbidang datar dan luas) Dang Hyang Dwijendra duduk mengajar masyarakat setempat berbagai keahlian dan keagamaan. Batu lengser ini tepat berada di bawah pohon Pakendungan. Guna mengenang jasa Dang Hyang Nirartha inilah, tempat suci yang diusahakan oleh Dang Hyang itu oleh masyarakat diberi nama Pura Pakendungan. Sedangkan Pura Tanah Lot adalah tempat Dang Hyang Nirartha bermeditasi menyatukan energi gunung dan lautan (lingga Yoni) sehingga terjadi kehidupan di muka bumi. Ketika hendak meninggalkan tempat itu Dang Hyang meminta masyarakat setempat untuk mendirikan bangunan suci yang permanen untuk memuliakan Dewa Lautan dan Dewa Gunung (Nyegara Gunung).

  11. Pura Taman atau Pura Pule di desa Mas, istana Bhatara Parama Nirartha. Pujawali (upacara) pada hari Sabtu Kliwon Kuningan. Penyelenggara upacara adalah masyarakat desa Mas. Mereka yang datang bersembelwang datang dari seluruh warga dan tidak ketinggalan warga Bandesa Mas. Semua berduyun-duyun menghaturkan sembah bakti.

  12. Pura Bukcabe di desa Mas, istana Bhatara Bukcabe, putra Dang Hyang Dwijendra yang beribu pada putri Pangeran Mas. Upacara bersamaan dengan pura Taman Pule, hari Sabtu Kliwon Kuningan. (Rabu Wage Langkir).

  13. Pura Tugu di pingir Sungai Cangkir di daerah Gianyar, tempat Kancing Gelung Bhatara Sakti Dwijendra. Upacara pada hari Selasa Kliwon Medangsia. Pura ini disungsung oleh warga Subak dan seluruh masyarakat.

  14. Pura Dalem Ksetra di Kemenuh dibangun oleh Ida Pedanda Katandan, cucu Mpu Dang Hyang Nirartha. Pujawalui pada hari Kamis Umanis Dungulan.

  15. Pura Pamuteran di Kemenuh, dibangun oleh Bhatara Katandan cucu Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Patirtan (upacara) pada hari Sabtu, Kliwon Kuningan.

  16. Pura Puseh di desa Kemenuh, dibangun oleh Pedanda Katandan, cucu Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Patirtan pada hari Rabu Umanis Medangsia.

  17. Pura Pucak Bukit Manik di desa Buruan Blahbatuh, istana Pedanda Lor putra Pedanda Sakti Wawu Rawuh dibangun oleh Pedanda mambal, cucu Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Pujawali pada hari Purnama Kapat (sekitar bulan Oktober).

  18. Pura Bukit Manuaba, juga bernama Pura Geria Sakti Manuaba, asal asrama Pedanda Sakti Manuaba, Cucu Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Upacara pada hari Selasa Kliwon Medangsia. Pura ini disungsung oleh subak dan masyarakat desa Nuaba serta seluruh lapisan masyarakat.

  19. Pura Air Jeruk di Subak Carik, di desa Timbul Sukawati, asrama Dang Hyang Niarartha.

  20. Pura Silayukti di Padang Karangasem, asrama Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Pujawali pada hari Rebo Kliwon Pahang. Pura disungsung oleh warga desa dan masyarakat luas.

  21. Pura Silayukti Padang Karangasem, palinggih Pedanda Sakti Wawu Rawuh berdekatan dengan palinggih Empu Kuturan. Pujawali pada hari Rebo Kliwon Pahang, Pura Siayukti Padang palinggih Bhatara Dwijendra, pujawali Rabu Wage Klawu, yang dipuja oleh warga desa dan masyarakat luas.

  22. Pura Bukit Abah di perbatasan Karangasem-Klungkung. Di sana terdapat dua danau kecil yang warns airnya berbeda (sliwah). Asrama Pedanda Sakti Abah, cicit Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Pujawali pada Purnama Kadasa (sekitar bulan April).

  23. Pura Sakaton di Singharsa (Sidemen) Karangasem, dibangun oleh Bhatara Sakaton, buyut Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Pujawali (Upacara) pada Purnama Kapat (Oktober).

  24. Pura Dalem Gandamayu, di desa Tangkas, Gelgel Klungkung, pindahan dari Pura Dalem Majapahit di Jawa, dibangun oleh Bhatara Dwijendra disertai oleh putra-putra beliau semuanya. Hari upacara Selasa Kliwon Kurantil. Pura ini dibangun pada onggokan tanah yang diapit oleh dua sungai, tempat ini semula bernama teledu nginyah yang amat disakralkan oleh penduduk setempat.

  25. Pura Puseh di Desa Kamasan, Gelgel-Klungkung, diupacarai oleh warga Brahmana. Upacara Rabu Umanis Medangsia.

  26. Pura Bukit Lingga, di desa Dawan Klungkung, menyungsung tongkat Bhatara Sakti Abah, cicit dari Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Upacara Rabu Umanis Medangsia.

  27. Pura Bajing Klungkung, asrama Pedanda Sakti Abah, cicit dari Bhatara Sakti Wawu Rawuh. Dibangun tatkala Bhatara Sakti Abah pindah dari Bukit Abah Bangli. Upacara pada Kamis Umanis Dungulan.

  28. Pura Batulepang di Kamasan-Gelgel, asrama Batara Sakti Wawu Rawuh, dibangun oleh Bhatara Gusti, putra Bathara Telaga Tawang, cicit dari Bhatara Sakti Wawu Rawuh. Upacara setiap hari Rabu Wage Klavvu.

  29. Pura Bukit Bangli, sebagai tempat pemuliaan Bhatara Sakti Wawu Rawuh, disertai oleh putri beliau Bhatari Melanting serta cucu beliau Bhatara Sakti Nuaba. Pura dibangun oleh Pedanda Sakti Bajangan, cicit Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Hari upacara dirayakan setiap Kamis Paing Kurantil. Pura disungsung warga Brahmana dan keturunan raja-raja Bangli.

  30. Pura Luhur Uluwatu adalah bekas asrama dan tempat moksah Bhatara Sakti Dwijendra, disembah oleh masyarakat Badung. Hari upacara dirayakan setiap Selasa Kliwon Medangsia.

  31. Pura Bukit Gong simbol suci penciptaan amertha di dalam perut bumi goha peteng mageng maha wisa sang wruh ri katatwaning maha kalpa. Penciptaan alam semesta dari amertha ditandai dengan ledakan maha dasyat, wit ning sabdha kamulaning dadi wong. Pura Gunung Payung di sebelah Selatan desa Bualu. Asal keluarnya air suci (Cubung Suci) dari tertancapnya payung Bhatara Dwijendra.

  32. Pura Sakenan di sebelah Barat Laut Pulau Serangan asrama Bhatara Dwijendra. Pujawali jatuh pada hari Sabtu Kliwon Kuningan, ramainya pada hari Minggu Umanis Langkir.

  33. Pura Puncak Tedung di pegunungan Carangsari, asrama Bhatara Sakti Wawu Rawuh. Pujawali dirayakan setiap Sabtu Kliwon Krulut. Pura menjadi tempat persembahyangan seluruh umat.

  34. Pura Suranadi di Sasak, sebagai tempat permandian Bhatara Sakti Dwijendra. Pura dibangun tatkala Dang Hyang Dwijendra mengajarkan agama Waktu Tiga. Pura dikelilingi telaga. Terdapat empat macam air suci (tirtha), yaitu: panglukatan, pebersihan, pengentas, dan air cetik (racun) yang dapat menghilangkan segala macam penyakit gatal. 

    Bangunan suci dibangun atas usaha dan petunjuk Dang Hyang Nirartha seperti yang terdapat dalam Dwijendra Tattwa di atas, penulis lengkapi pula dengan hasil wawancara dengan Ratu Peranda seluruh Bali, ahli filologi dan sejarawan, serta tokoh masyarakat yang sempat penulis ajak berdiskusi, baik yang berada di Bali, Lombok, juga di Sumbawa. Serta sumber-sumber karya tulis lainnya. Berdasarkan apa yang dijelaskan di atas, maka terdapat tambahan pura Dang Kahyangan yang memuliakan dan mensucikan kemurnian Dang Hyang Nirartha, yaitu:

  35. Pura Bias Tugel dan Pura Dharma di Nusa Dua. Pura Bias Tugel yang berdiri di Pinggir Pantai, di atas onggokan tebing batu karang, keberadaannya sudah diketahui sejak Dang Hyang Nirartha menyelesaikan karangan yang berjudul Anyang Nirartha (kakawin) di tempat ini. Sekarang pura ini dipelihara oleh pihak penglola Hotel Nusa Dua, disembahyangi warga desa setempat dan oleh umat Hindu lainnya, terutama pada hari-hari besar keagaman. Sedangkan Pura Dharma keberadaannya dikaitkan dengan kedatangan Dang Hyang Nirartha di tempat itu untuk memuliakan ajaran beliau yang berpersepsi tinggi dan berpemahaman mendalam, dalam memuliakan Tuhan Yang Tunggal itu. Tuhan/Widhi/Siwa yang tiadalah dapat dibagi-bagi, hanya umat manusia dengan berbagai keyakinan dan pengalaman rohaninya menyebut dengan beragam sebutan dan dengan beraneka cara untuk mencarinya. Tidaklah ganjil manakala penekun spiritual di Pura Dharma memuja setiap bangunan suci yang ada dengan simbol-simbol suci berbagai keagamaan, seperti: simbol-simbol Agama Hindu, Bhuda, Islam, Kristen (Ortodok), dan Yahudi. Penanda simbol itu membuat Pura Dharma menjadi unik. Pura ini sekarang difungsikan untuk memuliakan Tuhan Siwa Yang Tunggal, yang dipuja oleh berbagai keyakinan sejati, diziarahi para peminat supernatural, tempat bermeditasi penekun spiritual, dan juga beberapa warga keturunan Tionghoa menjadi pengempon ngarep (pemelihara yang memediasi keberadaan pura) di Pura Dharma. Dasar-dasar keyakinan ini beranalogi dengan keberadaan bangunan suci Padma Tiga di Penataran Agung Besakih, yang juga atas usaha Dang Hyang Nirartha untuk menyatukan seluruh warga atau klen di Bali yang pada waktu itu masih menganut berbagai sekte. Di hadapan bangunan suci Padma Tiga, mereka tidak lagi dibatasi oleh sekte maupun warga atau klen yang melahirkannya. Mereka menyembah Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Siwa Tiga atau Sang Hyang Tri Purusa. Dalam lontar-lontar keagamaan di Bali seperti dalam lontar Buwana Kosa sebutan Tuhan Yang Maha Esa atau Sang Hyang Widhi adalah Bhatara Siwa.

    Bhatara Siwa bersifat imanen dan juga transenden. Imanen artinya hadir di mana-mana sedangkan transenden artinya mengatasi pikiran dan indriya manusia. Kutipan di bawah ini menyatakan hal itu.

Sivas sarvagata suksmah bhutanam antariksavat, acintya mahagrhyante, na indriyar parigrhyante.

Bhatara siwa sira wyapaka, sira sulama tar kneng angenanen, kadyangga ning akasa, tan kagrhita de ning manah mwang indriya.

( Bhuwanakosa II. 16 )

Artinya :

Bhatara Siwa meresapi segala, la gaib tak dapat dipikirkan, la seperti angkasa, tak terj angkau oleh pikiran dan indriya. Kutipan ini menyatakan bahwa Bhatara Siwa meresapi segala, berada di mana-mana, meliputi segala. Dengan demikian la pun hadir pula dalam pikiran dan indriya, namun pikiran dan indriya tidak mampu menggapai-Nya. Ini berarti la mengatasi pikiran dan indriya. Demikianlah aspek imanen dan transenden Bhatara Siwa.


Bersambung...Pura-pura Dang Kayangan artikel 2

Mari berkomentar





CAPTCHA Image
Reload Image