Pura-Pura Dang Kayangan yang didirikan dalam rangkaian Dharmayatra Dang Hyang Nirartha

Pura-Pura Dang Kayangan yang didirikan dalam rangkaian Dharmayatra Dang Hyang Nirartha

Ratu Pranda di Jembrana juga menambahkan bangunan suci yang didirikan dalam rangkaian Dharmayatra Dang Hyang Nirartha, yaitu;

  1. Pura Dang Kahyangan Pura Jati
    Di Pura Jati adalah menandai kedatangan Dang Hyang Nirartha yang bertongkat tangkai pohon kayu jati. Semula tempat itu begitu kering. Setelah Dang Hyang Nirartha menancapkan tongkat tangkai kayu jati ke tanah, kemudian dari bongkahan tanah itu mengeluarkan air yang jernih. Sekarang dapat kita saksikan keganjilan dan kebesaran Tuhan ini, dan bongkahan pohon kayu jati kembar dempet yang berusia 500-an tahun lebih itu menyembul mata air yang tiada pernah kering, sekalipun di musim kemarau.
  2. Pura Indra Kila. Pura Indra Kila adalah tempat Dang Hyang Nirartha mengajarkan berbaga pengetahuan keagamaan kepada masyarakat setempat. Masih banyak bangunan suci yang berhubungan dengan dharmayatra Dang Hyang Nirartha di Bali, di antaranya:

  3. Pura Dang Kahyangan Srijong di Batulumbang, Antap Selemadeg, Tabanan untuk memuja Bhatara Sagara.

  4. Pura Dalem Mangening di Renon, tempat persinggahan Dang Hyang Niratha dan sempat mengajar masyarakat berbagai keterampilan bertani dan pengetahuan kerohanian.

  5. Pura Pucak Empelan Dalem Semeru di Belayu, Marga Tabanan. Pura Pucak Empelan Semeru di Belayu Tabanan, adalah pura yang dibangun oleh Dang Hyang Nirartha sedatang beliau melakukan dharmayatra di Lombok. Pembangunan pura ini sebagai penanda keberhasilan Dang Hyang Nirartha mengajar Gama Metu Telu di Lombok. Patung Dang Hyang Dwijendra yang disebut Tuwan Semeru yang distanakan di pura Pucak Empelan ini memakai songkok/peci

  6. Pura Katyagan di desa Kamasan Klungkung. Pura ini adalah bekas pasraman (Gria) Dang Hyang Nirartha saat menjadi purohita kerajaan. Para penyungsung pura Katyagan terus melakukan pembenahan dan perbaikan pura sehingga kekhasannya menjadi lebih asri.

  7. Pura Taman Bagenda di Gelgel. Berdasarkan buku beraksara Bali " Panataran Batu Lepang Puser Brahmana Kaniten (1958:10) menyebutkan, sedatang Dang Hyang Nirartha bersama Dalem Waturenggong dari Teluk Padang, Dalem memerintahkan kepada para abdi beliau di Istana Gelgel (Sweccha Pura) untuk mempersilakan Sang Maha Muni tinggal di Taman Bagenda, disebelah Utara Pura Dasar Gelgel. Dalam perkembangan kerajaan Bali, Pura Taman Bagenda dipergunakan sebagai pasraman tempat pertemuan para wiku kerajaan. Piodalan, Purnamaning Sasih Kapat.

  8. Pura Taman Pancaka Tirtha, di desa Kamasan Klungkung, di dibangun oleh Ida Pedanda Telaga Tawang Cucu Dang Hyang Nirartha. Upacara Anggara Sasih Tambir

  9. Pura Seganing, desa Siku, Klungkung. Tempat pasucian Ida Pedanda Sakti Ender (Talaga), putra Dang Hyang Nirartha. Piodalan Anggara Kasih Tambir.

  10. Pura Gemblong, tempat pasucian Ida Bhatari Istri Rai kakak dari Ida Pedanda Sakti Telaga. Tempat ini dipergunakan Ida Bhatari Istri Rai menyempurnakan ajaran kerohanian yang diterima dari Dang Hyang Nirartha sebelum beliau balik ke Tanah Jawa, yang kemudian oleh orangorang Jawa disebut Syekh Siti Jenar. Upacara Anggra Kasih Tambir. Pura Grya Giri Taksu Dwijendra/Pura Sakti Mrajan Peling, di Kamasan Klungkung. Dibangunkan oleh Ida Pedanda Sakti Lor, putra Dang Hyang Nirartha.

  11. Pura Bhatara Sakti Bawu Rawuh, di Subak Jumpung desa Siku. Pasraman (Gria) Dang Hyang Nirartha di Siku Kamasan. Pura Bhatara Sakti Bawu Rawuh kini sedang diusahakan dibangun oleh Ida Pedanda Ketut Keniten Grya Anyar Jumpung Dawan Kelod, Klungkung dan Ida Pedanda Gde Grya Jumpung Kamasan, Klungkung. Piodalan Purnama Sasih Kalima.

  12. Pura Selang (Pura Grya). Pada tulisan ini penulis juga inpormasikan pura peninggalan Dang Hyang Nirartha yang terdapat di ujung Timur pulau Bali, yaitu Pura Selang di desa Seraya, Karangasem. Pura ini adalah tempat Dang Hyang Nirartha mengajarkan berbagai pengetahuan lahir dan batin kepada masyarakat setempat, utamanya memuja Sang Hyang Ibu Pertiwi. Masyarakat setempat sangat meyakini kekeramatan pura Selang desa Sraya ini. Mereka yakin sekali, aura pura dapat menj aga wilayah desa dan segala wabah dan marabahaya. Sekarang pura ini sedang diusahakan untuk dipugar kembali.

  13. Pura Ponjok Batu di desa Kubu Juntal Buleleng. Tempat Dang Hyang Nirartha bermeditasi dan berdiri memandangi lautan lepas ketika akan melanjutkan dharmayatra ke Sasak. Dalam teks Dwijendra Tattwa disebutkan, setelah beliau berhasil membantu para juragan perahu asal Sasak beliaupun ikut bertolak ke Sasak. Masyarakat desa Kubu Juntal yang setiap malam menyaksikan sinar menyala keluar dan dari batu tempat dang Hyang Nirartha berdiri kemudian mendirikan tempat suci yang dikenal dengan nama Pura Ponjok Batu.

  14. Di Kabupaten Dompu, NTB. Pura Giri Tambora/Pura Agung Jagat Tambora. Kedatangan Dang Hyang Nirartha di Pegunungan Tambora, Sumbawa mengajar masyarakat petani di sana berbagai keterampilan bercocok tanam, termasuk mengajar tata cara mengatasi hama penyakit tanaman. Dang Hyang Nirartha pernah mendirikan tempat suci di sana untuk membentengi keyakinan masyarakat setempat. Lama tempat suci ini terpendam oleh material letusan Gunung Tambora yang terjadi pada tahun 1818. Kini di pedalaman Pegunungan Tambora yang diperkirakan tepat berada di atas bekas puing-puing pura peninggalan Dang Hyang Nirartha itu telah berdiri tempat suci yang megah, dengan luas puluhan Ha, yang disungsung oleh umat Hindu di Sumbawa. Pemugaran dan pembangunan pura ini mendapat bantuan dari Dirjen Bimmas Hindu Kementerian Republik Indonesia, Pemprop Bali, Kabupaten-Kota di Bali serta pemerintah setempat.

  15. Pura Dalem Suniantara di Banjar Batan Nyuh Desa Pamecutan klod Denpasar. Tepatnya alamat pura sekarang adalah di Jalan Imam Bonjol Tegal, di depan Kantor Pemadam Kebakaran. Upacara wali jatuh setiap enam bulan sekali, yaitu pada hari Redite (Minggu) Kliwon Watugunung. Penyungsung pura adalah warga kota Denpasar. Sedangkan yang mengingatkan aci-aci setiap hari besar keagamaan adalah warga Batan Nyuh. Keberadaan pura berkaitan erat dengan kedatangan Dang Hyang Nirartha di desa Batan Nyuh membantu menghalau banjir bandang yang membahayakan penduduk dan menghancurkan rumah tinggal Batan Nyuh Desa Buagan. Saat beliau menghalau banjir, teteken beliau distanakan pada sebuah tempat yang kemudian oleh masyarakat didirikan Pura Suniantara, untuk mengenang kedatangan Dang Hyang Nirartha di tempat itu. Upacara wali jatuh pada setiap hari Minggu Kliwon Watugunung. Pada hari Minggu Kliwon Watugunung, tanggal 17 April 2011 bertepatan dengan Purnama Jyesta dilakukan upacara Karya Padudusan Agung Pangatep Wreaspati Kalpa. Bangunan utama berupa Padma Tiga stana Sang Hyang Tri Purusa, Siwa, Sadha Siwa, Parama Siwa.

  16. Pura Sari di Gria Agung Tegal, bekas puri Arya Tegeh Kori di Tegal Denpasar. Pura di sungsung warga Brahmana Tegal. Upacara wali dilakukan setiap setahun sekali yaitu pada hari Purnama Kasa. Sejarah pura berkaitan dengan kehadiran Dang Hyang Nirartha di Puri Arya Tegeh Kori Tegal atas undangan Arya Tegeh Kori, setelah berhasil menghalau banjir bandang di Buagan. Sepeninggal Dang Hyang Nirartha, Arya Tegeh Kori mendirikan tempat suci di mana Dang Hyang Nirartha berkenan duduk bermeditasi. Belakangan hari, karena suatu peristiwa sejarah, warga puri Tegeh Kori pindah ke desa Tegal Tamu Gianyar tepatnya Puri Tegal Tamu Gianyar. Sepindah Arya Tegeh Kori ke Tegal Tamu, kemudian tempat suci mengenang kedatangan Dang Hyang Nirartha di puri Tegeh Puri Tegal kemudian disungsung oleh warga Brahmana Tegal sampai sekarang.

  17. Giriya Pita Maha, Desa Mas Ubud. Bangunan suci ini sedang diusahakan oleh Ida Bagus Ketut Bali Putra bersama-sama warga dunia, menjembatani ide besar Dang Hyang Nirartha (Beliau Yang Kekal Abadi) sebagai Giriya Pita Maha atau kreator agung jagat raya. Di Giriya Pita Maha tersimpan pusaka pustaka suci Mahasaraswati (Pustaka Lontar menjelaskan rahasia langit) yang amat sangat dikeramatkan. Ida Bagus Ketut Bali Putra bersama Ida Pedanda Gde Lila Arsa, Gria Taman Sukawati dan para bakta yang datang dari seluruh penjuru dunia sangat menghormati dan mempercayai pustaka lontar ini adalah Maha Badan Wadag Dang Hyang Nirartha, yang telah dan kelak terlahir dari aksara suci pustaka suci dan kembali menyisakan kawistara kawiajiiananira ring bwana mwang bawana dan "janji besar big bang" maha kreta samayanira, karma tan paphala Aku phalanya. Upacara piodalan Sabtu Kliwoan Watugunung, bertepatan dengan Piodalan Sang Hyang Aji Saraswati.

  18. Arca Sang Hyang Brahma Le Lare Ratuning Wisesa. Putra Brahma yang Agung, terbit dan bertumbuh menyongsong dan mencipta peradaban jagat anyar. Dunia baru dari Timur untuk semesata raya. Kawi-Bali, Pa-Bali, titik balik merancang penciptaan-demi penciptaan mengikuti proses kreativitas bangsa dari perspektif Bali (ilmu-ilmu Bali) surgawi. Mahayu-hayuning bhawana mwang buwana, kerahayuan jagat dengan segala isinya. Menjadi keyakinan, tidak ada yang lebih besar dan kuasa dari-Nya. Hagiografis katakata mukjijat anugerah Dang Hyang Dwijendra kepada putra Beliau di Pasraman Mas, pewaris pusaka Sang Hyang Mareka, Mahasaraswati; Ang Ung Mang mijil Sang Hyang Tri Sakti, Sang Bukbuksah-Sang Gagakaking, patemon Siwa-Buddha Sakti patwa Sang Hyang Brahma Le Lare pinaka Ratuning Wisesa. Mantram wajib ngutpeti karana, menghadirkan dan menghidupkan perwujudan Sang Hyang Brahma Le Lare Ratuning Wisesa.

    Arca Sang Hyang Brahma Le Lare Ratuning Wisesa, simbol perwujudan "twah agung" Dang Hyang Dwijendra ini dimuliakan oleh Ida Pedanda Gde Lila Arsa (Griya Taman Sukawati) bersama masyarakat Br. Blah Tanah, Sakah-Gianyar. Perwujudan, panca dattu, dan sukat (skala) dioramanya anugerah dari Giriya Pita Maha, yang diingatkan oleh Griya Gin Kencana, Mas-Gianyar bersama-sama masyarakat Br. Blahtanah, Sakah — Mas dan masyarakat luas lainnya. Piodalan Sang Hyang Brahma Le Lare Ratuning Wisesa, jatuh setiap Anggara Kasih (Selasa Kliwon) Medangsia, enam bulan sekali. Mereka yang menghaturkan bakti tidak saja dari Br, Blahtanah- desa Sakah, tetapi juga masyarakat desa Mas, Batubulan, dan pemakai jalan jurusan Denpasar, Gianyar—Klungkung.

    Dari ke-55 pura yang penulis catat ini belum memasukkan pura-pura yang berhubungan dengan dharmayatra Dang Hyang Nirartha di Lombok, seperti (56) Pura Kaprusan, (57) Pura Batu Bolong, (58 Batu Layar, (59) Pura Baleku, (60) Pura Sesela (Baru Butir), (61) Pura Muter Jagat, (62) Pura Baleku, dan yang lainnya seperti yang dijelaskan dalam bab pembahasan "Dharmayatra Dang Hyang Nirartha di Pulau Lombok dan Sumbawa".

    Sesungguhnya masih banyak tempat-tempat suci untuk memuliakan dharmayatra Dang Hyang Nirartha yang hanya dipelihara dan diketahui masyarakat setempat ataupun oleh warga tertentu saja. Mereka tekun memelihara bangunan sucinya itu, semata-mata karena mendapatkan tugas menjaga pusaka warisan dari Dang Hyang Nirartha, seperti di desa Mas Ubud Gianyar, di desa Kamasan Klungkung, Pura Karangasem dipinggir pantai sebelah Utara Patung Ngurah Rai di Tuban Denpasar dan di tempat-tempat lainnya. Tidak jarang tempat-tempat yang disucikan ini dijadikan pusat-pusat perguruan olah kebatinan atas nama universalitas spiritual.

Mari berkomentar





CAPTCHA Image
Reload Image