[Buku] Memanah Munuh Manohara Kesadaran Siwa dan Kasih Sayang

[Buku] Memanah Munuh Manohara Kesadaran Siwa dan Kasih Sayang

1. PENDAHULUAN
ARUS GLOBALISASI
Pada tahun 1850 jumlah penduduk bumi diperkirakan satu rnilyar, dan terus bertambah dengan cepat. Dalam kurun waktu 80 tahun (tahun 1930) jumlah penduduk meningkat dua kali lipat menjadi dua milyar. Beberapa tahun yang lalu, tahun 1987 jumlah penduduk dunia mencapai lirna milyar, dan diperkirakan akan mencapai sepuluh milyar di tahun 2027. Manusia di bu_mi ini akan terus bertambah, namun diperkirakan akan berhenti bertambah setelah mencapai angka dua belas milyar. 

Dengan jumlah sebesar itu, smnber-sumber daya alam akan cepat habis digunakan, dan kelaparan akan terjadi di banyak belahan dunia. Lingkungan mengalarni kerusakan akibat pencemaran udara,

tanah, air, dan laut. Demikian pula perubahan-perubahan iklirn akan mempengaruhi kehidupan manusia di seluruh dunia (Iumsai, 2001). Di samping itu, arus globalisasi yang begitu cepat baik dari segi ekonorni, sosial, budaya dan lainnya mengharuskan orang-orang mempersiapkan mental menghadapi perubahan itu. Ketidaksiapan masyarakat mengahadapi arus globalisasi itu akan rnengakibatkan orang-orang mengabaikan norma-norma yang berlaku, dan tidak bisa rnernbedakan perbuatan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Hasil dari sernuanya ini ialah kurangnya rasa damai dan bahagia. Orang-orang akan menderita stress, kebingungan, lupa diri atau tidak tahu diri. Untuk menghadapi keadaan seperti itu atau untuk mendapat kedamaian, apakah yang perlu kita pahami dan laksanakan?

2. AJARAN SANG SIDDHA WAGISWARA:
PENGETAHUAN JATI DIRI
Dalam karya sastra yatra kidung Puspa Sancaya bait 9 dan 14, perihal hakekat hidup, Dang Hyang Nirartha menyatakan sebagai ajaran sang Siddha Wagiswara seperti berikut (Agastia, 2010).

Warah sang siddha wagiswara ri wastu ing dadi wara wiryya wruh wahya suksma wasa-waseng bhuwana sarira waya sada ri wara kamaya wak-ikang lewih wa was pejah de sang wam gunajnya wasitwa ring Siwa digamana wara jnyna iwa kembang sariwa (Puspa Sancaya, 9).

Artinya:
Ajaran beliau sang Siddha Wagiswara yang telah berhasil dalam pengetahuan tentang hakikat kehidupan, adalah kebahagiaan yang utama, mengetahui hakikat kenyataan dan ketidaknyataan, tentang kekuatan didalan diri, sadar akan kemuliaan keinginan, waspada pada kematian, oleh sifat dan pengetahuan yang utama, memiliki kekuatan dan pengetahuan suci tentangjalan Siwa, seperti bungai teratai.

Wasaken tang warahi den wruh wahya suksma ing wara langen ing wwang asanggama waya nggula prawasiya prasiddha warah sang siddha wagiswara ring wara kami awan ing anemu warasa sasrnara waswasen ring jro waya kahyangan wara kahyangan wara wiryya iwa lwir saroruwa (Puspa Sancaya, 14). 

Artinya:
Perhatikan ajaran tentang pengetahuan perihal kenyataan dan ketidaknyataan, tentang keindahan yang utama orang
yang melakukan penyatuan diri dalarn peraduan, ada rasa manisnya, tentu berhasil dipahami ajaran sang Siddha Wagiswara, orang yang telah mencapai pengetahuan tinggi, pengetahuan tentang keindahan jalan untuk menemui rasa kasih, perhatikan itu di dalam din‘, kebahagian yang utama itu bagaikan bunga teratai.


Berdasarkan kedua bait di atas, sesungguhnya ajaran sang Siddha Wagiswara adalah pengetahuan tentang hakekat hidup, pengetahuan utama atau pengetahuan tertinggi, pengetahuan yang mampu membedakan yang kekal dan tidak kekal, atau pengetahuan suci untuk menuju Siwa yang disimbulkan dengan bunga teratai. Dalam Bhagawad Gita pengetahuan utama itu dinyatakan sebagai Atmawidya (Mantra, 1970).

Sarganam adir antas ca, madhyam cai va ham arjuna Adhyatmavidya vidyanam, vadah pravadatam aham

Artinya:
Di antara segala ciptaan Aku adalah permalaan, akhir juga pertengahan wahai Arjuna. Di antara segala ilmu pengetahuan Aku adalah Atmawidya. Di antara para ahli logika Aka adalah kebenaran sebagai kesimpulan (Bhagawad Gita X.32).

PENGETAHUAN JATI DIRI
Manusia adalah gabungan badan, pikiran dan Atma. Badan dan pikiran tcrdiri dari lima unsur halus (panca maha buta) yaitu etcr, udara, api, air, dan tanah yang terus-menerus mengalami perubahan. Badan dan pikiran mengalami kelahiran dan kematian melalui enam proses yaitu lahir, tumbuh, dewasa, tua, jornpo dan mati. Iadi badan dan pikiran tidak kekal.

Berbeda dengan badan dan pikiran, Atma tidak dipengaruhi oleh proses kelahiran dan kematian, tidak terbatas (melampaui batasan ruang, waktu, dan sebab akibat), tidak dapat dibinasakan, tidak bergerak, tidak berwujud, tidak terpikirkan, dan kekal. Lima unsur halus yang membentuk badan dan pikiran itu berasal dari Atma. Berdasarkan perbedaan dan hubungan antara Atma dengan badan dan pikiran maka jelas mana yang menjadi jati diri manusia dan mana yang bukan.

Semua mahaavaakya (pernyataan suci) mengenai jati diri manusia yang ada dalam Pustaka Suci Catur Weda Inenyatakan hal yang serupa. Seperti dalam:

  • Rig Weda: Prajnaanam Brahma - kesadaran tertinggi adalah Tuhan.
  • Atharva Weda: Ayam Aatma Brahma - diri sejati adalah Tuhan.
  • Sama Weda; Tat Tvam Asi - Engkau adalah itu, Tuhan.
  • Yayur Weda; Aham Brahmaasmi - aka adalah Brahma.
  • Bhagawadgita: Aham Atma — aku adalah Atma.

Dengan demikian sang Aka (jatidiri) adalah Atma. Selanjutnya pengetahuan tentang Atma itu disebut dengan Atmawidya atau pengetahuan utama yang dalam Puspa Sancaya disebut dengan ajaran sang Siddha Wagiswara scbuah pengetahuan utama untuk menuju Siwaloka, kebahagiaan sejati.

3. PUSPA SANCAYA:
SPIRITUALITAS
AGAMA DAN SPRITUALITAS

Beberapa orang merancukan atau mengaburkan pengertian religius (ritual) clengan spiritualtas. Beberapa yang lainnya berpikir bahwa ritual sama dengan spiritualtas. Sesungguhnya keduanya sangat berkaitan akan tetapi bisa juga sangat bcrbeda. Dikatakan sangat berkaitan karena ritual adalah jalan menuju Tuhan dan spiritualitas adalah menempuh jalan menuju Tuhan, ritual mcrupakan pengetahuan yang lebih bersifat teori, pembelajaran atau pendidikan, sedangkan spiritualtas adalah penerapan praktisnya. Sangat berbeda karena seorang religius cendcmng memisahkan keyakinannya jauh- jauh dari kehidupan sehari-hari (Aditya, 1999). Sebagai contoh, seorang yang taat sembahyang sesuai dengan petunjuk agamanya, akan tetapi dibalik itu ia masih suka berjudi, rninum-minuman keras, korupsi, menipu, atau bfiftllldflk anarkis. Orang-orang seperti itu

sesungguhnya hanya memiliki kecerdasan intelektual (kemampuan menghitung-hitung atau mengkalkulasi dengan tepat) tetapi tidak cerdas secara emosional, dan miskin atau sakit secara spiritual. Manusia yang berkccukupan secara materi namun selalu gelisah dalam hidupnya adalah contoh sederhana dari manusia yang kering secara spiritual lantaran hidupnya kehilangan makna. Seorang jenius yang tak pernah merasa ketenangan hidup adalah contoh sederhana lain dari manusia yang tidak cerdas secara spiritual karena ia gagal rnenemukan makna dalam kehidupannya. Perasaan diri terasing, putus asa, atau merasa diri tak punya harga adalah gejala-gejala seseorang miskin secara spiritual. Kasus bunuh diri yang sering terjadi belakangan ini adalah contoh ektrim dari manusia yang sakit secara spiritual (Millah, 2001).

Berkaitan agarna dengan spiritualitas, Ida Bhatara Lelangit, Dang Hyang Dwijendra dalam Dwijendra Tatwa telah mengingatkan urnatnya seperti berikut (Sugriwa, 1995).

Sesungguhnya sudah ada diturunkan ajaran untuk mencapai kebahagiaan hidup oleh Tuhan yang disebut agama

Semua agama tujuannya satu tidak dua yaitu untuk kebahagiaan hidup manusia. Kalau ada orang mengatakan dirinya beragama clan ia tidak merasakan dirinya bahagia, jangan menganggap agama itu salah, sebab ia tidak melaksanakan ajaran agama dengan tepat.

Siwa Tattwa
Indram mitram varuna agnim ahur atho divyah
Susuparno garutman, ekam sad vipra bahudha
Vadanty agnim yamam matarisvanam ahuh.

Artinya
Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia
yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok. Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama
seperti Agni, Yuma, Matarisvan (Reg Weda I. 164.46).

Senada dengan hal di atas, dalam Siwa tattwa, yaitu dalam lontar Inanasiddhanta diuraikan sebagai bcrikut. "

Sa eko bhagavan sarvah, Siva karana karanam, Aneko viditah sarvah, catur vidhasya karanam, Eka twa aneka twa swalaksana Bhattara Eka twa ngarannya, kahidep makalaksana ng Siwatattwa. Ndan tunggal, tan rwa tiga kahidepanira. Mangeka laksana Siwa karana juga, tan paprabheda.

Aneka ngaranya kahidepan Bhattara makalaksana caturdha. Caturdha ngaranya laksarzaniran sthula, suksma, para, suniya.

Artinya
Sifat Bhat1ara adalah eka dan aneka. Eka (esa) artinya ia dibayangkan bersifat Siwatattwa. Ia harzya esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya Bhatara dibayangkan berszfat caturdha artinya adalah sthula, suksma, para, surzya.

Sunya, para, suksma, dan sthula dalam lontar Wrhaspati Tattwa berturut turut dinyatakan sebagai Paramasiwa tattwa, Sadasiwa tattwa, Siwa tattwa, dan Maya tattwa. Paramasiwa tattwa, Sadasiwa tattwa dan Siwa tattwa disebut dengan cetana yang berarti pengetahuan, kesadaran, dan bersifat tetap; sedangkan Maya tattwa disebut dengan acetana yang berarti tanpa pengetahuan, ketidaksadaran serta berubah-ubah. Siwa tattwa dalam diri manusia dikenal dengan Atman (Putra, dan Sadia, 1988)

Sunya, para, suksma, dan sthula yang diuraikan dalam lontar Wrhaspati Tattwa itu, selanjutnya disimbulkan seperti pada tabel bcrikut ini.

Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa adalah konsep tri purusa ajaran dari Dang Hyang Nirartha. Ajaran ini kemudian berkembang menjadi panca srada, upacara panca yadnya, acara, dan susfla agama Hindu Bali seperti terungkap dalam kidung Sebun Bang Kung pupuh paling akhir hasil karya Dang Hyang Nirartha seperti berikut. Tattwane to anggon kawit, tuhu bawos bali kurang. Sastrane ento anggon guru, medasarpanca sila. Mangastiti ring Sang Hyang Wzdz panca yadnyane gelarang anggon ngastiti rahayu.

KASIH SAYANG NILAI MANUSIA
Kombinasi yang berbeda-beda dari partikcl atom menghasflkan benda yang berbeda seperti tembaga, emas, atau oksigen yang berbeda-beda kegunaan dan nilainya. Di dunia ini setiap benda memiliki nilai, nilai garam terletak pada rasa asinnya; nilai gula terletak pada rasa manisnya; sedangkan nilai api terletak pada kemampuan rnembakarnya. Demikianlah setiap benda memiliki nilainya masing-masing. Iika demikian apakah yang menjadi nilai pada manusia? V

Hanya dengan memiliki wujud, manusia tidak benar-benar menjadi seorang manusia. Evolusi dari binatang menjadi manusia tcrjadi selama ribuan tahun, dan kini manusia berjumlah rnilyaran menjadi penghuni dunia. Tetapi seberapa banyakkah dari mereka yang menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati? Hanya jika sifat- sifat kemanusiaan seperti rasa kasih sayangnya terungkap maka seorang bisa mcnyebutkan dirinya sebagai manusia yang sejati ( Iereonsettasin, 2001).

Dalam hal kasih sayang Dang Hyang Nirartha mengungkapkannya dalam Kidung Puspa Sancaya bait ke 16 seperti berikut.

Sih kwa, tan warsih angamong sih, silih asih apulang sih, nir tuduh sih, salulut sih, suksman ing sih jroning sasih.

Artinya:
KasihKu, tidak pernah puas menjaga kasih, saling mengasih,
saling memberi kasih, tiada diketahui datangnya kasih,
terbuai kasih, hakikat kasyda di dalam sinar bulan.

Pada bait ke 16 di atas di akhiri dengan suksmanning sih jroning sasih yang artinya hakikat kasih ada di dalam sinar bulan. Dengan demikian kasih sayang dalam tataran caturdha dari Bhatara Siwa berada di suksma (Siwa tattwa, Atman) yang disimbulkan dengan ardha candra (bulan sabit)

Dari seluruh uraian di atas maka ajaran Sang Siddha Wagiswara, pengetahuan utama, pcngetahuan jati diri, pengetahuan suci, atau kesadaran Siwa yang disimbulkan dengan bunga teratai (padma) itu mengalirkan sinar kasih secara terus menerus tanpa putus (tan warsih angamong sih) yang disimbulkan dengan sinar bulan (sasih).

Kesadaran Siwa merupakan aliran batiniah yang tidak terlihat dalam diri kita dan mengalir keluar dalam bentuk kasih spiritual yang dapat dirasakan.. Ini melambangkan Saraswati. Sungai Saraswati adalah aliran bawah tanah yang tidak terlihat Dalam hal ini Dang Hyang Nirartha menyatakannya sebagai nir tuduh sih (tiada dikctahui datangnya kasih).

Dewi Saraswati dikenal dengan Dewi Wagiswari sebagai simbul predana ataujnana sakti (Agastia, 2010). Selanjutnya Dang Hyang Nirartha menyatakan pengetahuan jati diri itu dengan ajaran sang Siddha Wagiswara yang berarti sebagai purusa (sumber energi kasih sayang)

PANCA KASIH SAYANG DAN PANCA SEHAT
KASIH SA YANG TERHADAP BADAN DAN PIKIRAN

Pikiran mempunyai empat fungsi. Bila pikiran sedang sibuk dalam proses pemikiran disebut manas ; bila berfungsi sebagai penyimpan ingatan dan perasaan ia disebut chitta ; bila sibuk dalam proses penyelidikan batin dan membeda-bedakan antara yang benar dan salah, ia disebut buddhi; dan bila menyamakan diri dengan badan jasrnani serta merasa melakukan berbagai kegiatan, ia disebut ahamkara (ego).

Bila ahamkam menguasai pikiran maka buddhi, pintu batin akan tertutup oleh ahamkara sehingga sinar kasih Atma menjadi terhalang dan pikiran menjadi gelap. Dalam suasana gelap itu muncullah anak buah ahamkara seperti: sadripu (enam jenis musuh), dan saptatimira (tujuh macam kegelapan atau kemabukan). Sadripu meliputi: kama (nafsu), lobha (kelobaan), krodha (kemarahan), mada (kemabukan), moha (kebingungan), dan matsarya (iri hati). Saptatimira meliputi: surupa (rupa tampan, cantik), dhana (kekayaan), guna (kepandaian), kulina (keturunan, kebangsawanan), yowana (keremajaan), sum (minuman keras), dan kasuran (kemenangan) (PHDP, 1968). Selanjutnya, jika sadripu dan saptatimira sudah menguasai pikiran maka muncullah berbagai penyakit.

Berbeda dengan ahamkara, buddhi tidak dipengaruhi oleh faktor luar bersifat rasional, mampu memilah-rnilah mana yang benar dan mana yang salah, mampu menganalisis, tidak terpengaruh oleh prasangka, atau anggapan sehingga tidak salah memberi perintah. Buddhi grahayam athidriyam (Bhagawadgita, VI.21), artinya budi dapat memahami hal-hal yang berada di luar jangkauan indera budi adalah kata hati. Dengan demikian jika budi menguasai pikiran akan menyebabkan pintu batin terbuka sehingga krjadi aliran kasih dari Atma ke pikiran.

MAKANAN DAN PIKIRAN
Makanan yang kita makan setelah proses pencernaan bagian yang paling kasar di keluarkan melalui lubang pelepasan, bagian yang halus menjadi darah, otot dan daging, serta bagian yang paling halus mengambil wujud pikiran. Badan atau selubung makanan (armamaya kosa) terutama berasal atau terbentuk dari makanan.

Bagian halus dari air yang diminum mernbentuk selubung kehidupan (pranamaya kosa), dan bagian air yang kasar dikeluarkan sebagai urine. Selubung makanan dan selubung kehidupan berpengaruh terhadap tiga selubung lainnya yaitu selubung mental (manomaya kosa), selubung budi (widnyanamaya kosa), dan selubung kebahagiaan jiwa (ammdamaya kosa). Ini berarti, betapa pentingnya makanan dan minuman dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian manusia (Wastuwidya dkk, 1995). Makanan terdiri dari tiga jenis yaitu rnakanan rajasik, tamasik, dan satwika. Makanan rajasik adalah makanan yang terlalu masam, asin, pedas, kering, keras dan angus, yang merangsang munculnya sifat- sifat ekstrim seperti marah, bangga, sombong, egois, angkuh dan lainnya. Makanan tamasik adalah makanan yang basi, hambar, berbau, dingin, sisa kemarin, dan kotor yang merangsang munculnya sifat-sifat tamasik seperti tidur, lamban, dan malas dan lainnya. Iadi, bila mengkonsumsi makanan rajasik dan tamasik pikiran akan dikuasai oleh ahamkara.

Sebaliknya, makanan satwika adalah makanan yang scimbang, modcrat, tidak panas, dan tidak pedas, dalam perut terasa nyaman, tidak menyebabkan kelainan pencernaan sehingga rnenimbulkan ketenangan dan keheningan dalam pikiran. (Aditya, 1999). Mengkonsumsi makanana satwika mengakibatkan pikiran dikuasai oleh budhi.
Untuk mendapatkan masakan yang satwika, ada tiga hal yang hams mcndapat perhatian yaitu: bahan-bahan makanan yang akan dirnasak dan alat-alat yang dipakai memasak harus bersih secara sekala dan niskala. Selain itu, pikiran dan perasaan orang yang memasak harus jernih. Iika tidak demikian, energi ncgatif yang berasal dari bahan makanan, alat masak, dan pikiran tukang masak itu akan berpengamh tidak baik terhadap pikiran orang yang mengkonsumsi makanan itu. Oleh karena itu, sebelum makan kita harus berdoa dahulu mohon kepada Tuhan agar makanan itu disucikanNya.

Dengan demikian, sayangflah badan dan pikiran dengan mekonsurnsi makanan dan minuman satwika dalam jumlah, jenis dan waktu yang teratur. Disiplin mengkonsumsi makanan satwika bukan hanya berarti makanan yang dirasakan lidah saja, tetapi juga termasuk udara bersih yang kita hirup melalui hidung, sedapat mungkin hindari udara kotor, dan asap rokok; pemandangan yang menyejukkan yang kita lihat melalui mata, hindari hal-hal yang buruk, Flm-film dan buku yang tak berrnutu; suara indah dan harmoni yang kita dengar melalui telinga, hindari scgala bentuk gosip, fitnah, dan skandal; benda-benda bersih yang kita sentuh melalui kulit, hindari bcnda-benda yang kotor.(Aditya, 1999).

PIKIRAN TERKENDALI
Selain itu, pikiran terkendali juga merupakan faktor penting sebagai wujud kasih sayang terhadap pikiran. Manusia rnemiliki hasrat dan keinginan yang berlipat—lipat jumlahnya, ingin akan materi duniawi, status sosial dan lain-lainnya. Beberapa di antaranya berada dalam jangkauan, tetapi beberapa lainnya berada di luar jangkauan. Keinginan dan idaman yang tak terjangkau itu hanya akan menimbulkan keputusasaan, frustasi, dan kegelisahan. Orang-orang sebaiknya mengatur kebutuhan dan keinginan sesuai dengan pendapatan yang dimiliki. Iika prinsip ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, orang akan merasakan hidup itu menjadi lebih menyenangkan dan lebih mudah.

Jika tirnbul suatu keinginan dalam pikiran pertimbangkanlah dcngan hati-hati. Tepatkah bagiku merniliki keinginan seperti itu? Bisakah aku mendapatkannya? Atau, apakah secara praktis berada di luar batas kemampuan? Apakah aku sedang merindukan bulan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mesti ditanyakan pada diri sendiri.

Jadi, dengan menyayangi badan, dan pikiran orang-orang akan sehat badan dan sehat pikiran (mental). Tanda-tanda orang sehat badan antara lain selurus proses fisologis dalam badan tidak terganggu, bekerja dengan semangat, tidak mudah mengeluh. Orang yang sehat pikiran (mental) antara lain: mudah memusatkan pikiran, mudah mengambil keputusan, tidak mudah tersinggung, mempunyai harga diri, tenang tidak mudah panik, dan ulet.

KASIH SAYANG (BAKTI) KEPADA ATMAN (SIWA)
PIKIRAN TUNGGAL

Pikiran tunggal artinya pikiran senantiasa mengingat Siwa (Tuhan) dan bukan bercabang-cabang penuh dengan aneka keinginan duniawi. Lakukanlah nama srnanmam, mengulang-ulang nama Siwa (Om nama Siwa ya) dengan tiada putus sambil merenungkan kemuliaan, kekuasaan, dan belaskasihNya yang tidak terbatas.

Doa Om nama Siwa ya itu sangat suci dan kuat untuk menghindarkan hambatan serta halangan, menyembuhkan berbagai penyakit, melebur bencana malapetaka dan dosa bagi penyembah yang taat, apabila diucapkan dengan rajin dan tekun setiap hari dan setiap saat (Agastia, 2008). Ini adalah cara untuk menuju sehat spiritual. Tanda-tanda sehat spiritual antara lain: percaya diri, berasa nyaman, dan damai.

KASIH SA YANG (TRESNA) KEPADA MASYARAKAT
PIKIRAN SEIMBANG

Setiap orang ditakdirkan mencapai kesempurnaan, hal itu tidak dapat dielakkan atau disangkal. Keadaan yang tidak sempurna saat ini ialah akibat kegiatan-kegiatan masa lalu. Dengan kata lain ;Q<;ran, perasaan, nafsu dan kegiatan pada masa kehidupan- gsiidupan yang lalu menycbabkan keadaan sekarang ini yang dapat i;ra_sakan dalam bentuk suka—duka, sukses-gagal, baik-buruk, dan lainnya. Cara terbaik mengatasi aneka perbedaan yang akan dihadapi iz masyarakat ialah menerima dengan perasaan tidak tersanjung atau iidak kecewa, tetapi dengan sikap kalem, tenang, sabar, cintakasih, atau seimbang. Dengan dernikian tidak ada sesuatu pun yang akan rnenggoyahkan pikiran dalam menuju sehat sosial.

Tanda-tanda sehat social antara lain: suka bergaul, menghargai pendapat orang, suka menolong, dan berbicara seperlunya.

KASIH SAYANG TERHADAP LINGKUNGAN
Dunia dengan segala isinya adalah lingkungan manusia. Ia adalah stula atau busana Bhatara Siwa. Oleh karena itu, manusia seharusnya rnemelihara atau belajar dari lingkungan, bukan menghajar, mencemari atau merusak lingkungan.

Orang-orang yang membuang sampah atau limbah tidak pada tempatnya, lingkungan rumah kotor, tidak sayang pada tanaman dan hewan adalah tanda-tanda orang yang menderita penyakit lingkungan. Sebaliknya tanda-tanda orang sehat lingkungan antara lain: kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, tidak perokok, ikut menjaga pelestarian lingkungan, lingkungan rumah bersih, penyayang tanaman dan hewan.

Jadi, jika energi kasih yang melirnpah tiada hentinya yang berasal dari Siwa (Atma) itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari maka orang yang bersangkutan akan memperoleh panca sehat yaitu: sehat badan, schat pikiran (mental), sehat spiritual, sehat social dan sehat lingkungan.

4. KESIMPULAN DAN HIMBAUAN
KESIMPULAN
Dalam kidung Puspa Sancaya hasil karya Ida Bhatara Lelangit, Dang Hyang Nirartha khususnya bait 9 dan 14; serta bait 16 dapat disirnpulkan dua hal seperti berikut.
1. Ajaran sang Siddha Wagiswara merupakan pengetahuan suci, pengetahuan utama, pengetahuan jati diri atau kesadaran Siwa (wa sitwa Siwa digamana) yang dilambangkan dengan bunga teratai (padma).
2. Kasih sayang adalah pancaran kesadaran Siwa atau spiritualitas yang dilambangkan dengan sinar bulan (suksmaning sih jroning sasih).

HIMBAUAN
Khusus kepada para welaka, dalam menghadapi arus globalisasi, pahamilah pengetahuan jatidiri atau tenggelamlah selalu dalam kesadaran Siwa bukan pada kesadaran badan (ahamkara). Selanjutnya, untuk memperoleh panca sehat, yaitu sehat badan, sehat pikiran, sehat sosial, sehat lingkungan, dan schat spiritual laksanakan panca kasih yaitu: kasih kepada badan, kasih kepada pikiran, kasih kepada masyarakat, kasih (cinta) kepada lingkungan dan kasih (bakti) kepada Hyang Siwa.

DAFTAR PUSTAKA
Aditya, Sudha. 1999. Curahan Belas Kasih. Penerbit Paramita. Surabaya. 118 hal.
Agastia, I. B. G. 2010. Sastra Yantra. Puspa Sancaya Karya Dang Hyang Nirartha. Yayasan Dharma Sastra. Denpasar. 45 hal. Iareonsettasin, T. 1988. Transformasi Kesadaran dan Nilai-nilai Kemanusiaan Sathya Sai. . Dalam: Pendidikan Nilai-nilai Kemanusiaan untuk Iaman Baru. Ariesta Printing. Iakarta. Hal. 58- 69.
Iumsai, A. 1988. Pendidikan Nilai—nilai Kemanusiaan Sathya Sai Tugas di Masa Mendatang. Dalam: Pendidikan Nilai-nilai Kemanusiaan untuk Iaman Baru. Ariesta Printing. Iakarta. Hal. 158- 161.
Mantra, I. B. 1970. Bhagawadgita. Upada Satra. 264 hal.
Millah, S. 2001. Kecerdasan Spiritual. Pikiran rakyat. 12 September 2001.
Putra, I G.A.G, dan Sadia, I W. 1998. Wrhaspati Tatwa (Alih bahasa). Paramita. Surabaya. 74 hal.
Sugriwa, I G.B. 1995. Dwijendra Tatwa. Upada Sastra. Denpasar. 67 hal.


Bersambung ke bagian 2

Mari berkomentar





CAPTCHA Image
Reload Image


1 Komentar

  • Ida Anak Agung Gde Semara Putra
    October 17, 2016 at 01:30pm

    Swastyastu,
    Ida Pedanda Gde Wayahan Keniten, atau kami di sejebag negara Kelungkung mengenal beliau sebagai Ida Pedanda Profesor, beliau adalah pengabdi umat yang kesohor di seluruh Kelungkung, Nusa Penida, karena ke moderatannya dan solusi yang selalu diberikat kepada umat yang tangkil ke Griya, kita sangat memerlukan Pandita - Pandita yang tuwon dan pageh melayani umat.
    Shantih
    Kuapang,17-09-2016