[Buku] Memanah Munuh Manohara Kesadaran Siwa dan Kasih Sayang

[Buku] Memanah Munuh Manohara Kesadaran Siwa dan Kasih Sayang

2. Butir-butir Mutiara di dalam Dwijendra Tattwa: Episode Bertemu Naga Besar
Oleh: Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten
Pagepuk Sastragama Sukra Mekemit 11 Juli 2015

EPISODE BERTEMU NAGA BESAR
Setelah mendapat petunjuk jalan dari seekor kera (Bantang baos Sukra Mekemit 3 Iuli 2015) selanjutnya di tengah perjalanan, rombongan Ida Bhatara Lelangit tiba-tiba bertemu dengan seekor naga yang besar dengan mulut terbuka sangat lebar dan rupa yang mengerikan. Hanya Dang Hyang saja yang bersikap tenang, sedangkan istri dan putra-putri beliau sangat terperanjat dan ketakutan melihat naga itu. Kemudian, dengan tenang Beliau masuk kc dalam mulut naga, dan di dalam perut naga itu dijurnpai scbuah telaga yang berisi tiga bunga teratai berwarna putih, merah, dan hitam masing-masing berada di pinggir timur, selatan, dan utara. Ketiga bunga teratai itu dipetik oleh Dang Hyang dan yang rnerah disunting di telingan kanan, yang hitarn disunting di telingan kiri, serta yang putih tetap dipegang. Lalu kc luar dari perut naga itu seraya rnengucapkan weda mantra Hayu Wreddhi, dan seketika itu naga musnah tanpa bekas.

Sekeluar dari mulut naga, wajah Dang Hyang Nirartha berubah menjadi merah, hitam, dan dan kemudian berwarna emas membuat istri dan putra-putri beliau talcut dan lari tunggang langgang masuk ke dalam hutan.

Setelah di luar Beliau tercengang dan terperanjat karena anak istri Beliau tidak ada lagi. Dcngan perasaan cemas Baliau tergopoh-gopoh rnencarinya ke dalam hutan belukar sementari hari semakin gelap. Tidak jauh dari tempatnya semula didapati istri Beliau seorang diri bersimpuh terengah-engah dalam kepayahan. Akhirnya dalam semalarn semua putra-putri Bcliau dapat ditemukan dalam keadaan masih hidup, kecuali putri tertua, Ida Ayu Swabhawa ditemukan telah berbadan halus.

Atas permintaan putrinya, Ida Ayu Swabawa, Dang Hyang Niratha riengajarkan ilmu rahasia pada putrinya sehingga terlepas dari dosa dan mejadi Bhatari Melanting yang dipuja oleh penduduk di sana vang kemudian dikenal dengan nama Pulaki. Sementara itu, kondisi ;bunda Sri Patni Keniten sangat payah, kemudian memohon kepada Dang Hyang Nirartha agar diajarkan ilmu rahasia seperti yang diberikan pada putrinya dengan harapan dapat tinggal bersama putrinya, dan dengan tulus Dang Hyang Nirartha mengabulkan permintaan itu.

1. BAHAN PEMBAHASAN
Dari uraian di atas dapat diajukan beberapa pertanyaan sebagai bantang baos.

  1. Ketika melihat naga besar yang mengerikan mengapa hanya Beliau yang bersikap tenang sedangkan istri dan putra-putri Beliau ketakutan?
  2. Apakah makna naga besar dengan mulut terbuka dengan sebuah telaga di perutnya?
  3. Apakah makna bunga teratai warna putih, merah dan hitam yang dujumpai di dalam telaga itu?
  4. Apakah makna naga itu segera lenyap ketika diucapkan mantra hayu wreddi?
  5. Apakah makna putra-putri beliau takut dan lari tunggang- langgang ketika melihat perubahan warna?

3. KIDUNG DANG HYANG ASTAPAKA STAWA
Oleh: Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten
Pagepuk Sastragama Sukra Makemit 14 Agustus 2015

PENGANTAR
Om Swastyastu

Sukra Makemit di Pasraman Dharma Wasitha, tanggal 7 Agustus 2015 membahas Kidung Dang Hyang Dwijendra Stawa dengan jud1 makalah: Kidung Wajib di Pe;ataran Agung, Kidung Dang Hyang Dwijendra Astawa (Arti, Smerthi,  dun Suksma), yang disampaikan oleh Dr. Drs. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum. Selanjutnya, Ida Pedanda Nabe, Ida Pedanda Gede Made Gunung menyarankan kepada penulis agar menyiapkan bantang bawos Sukra Makemit tanggal 14 Agustus 2015 dengan materi Dan Hyang Astapaka Stawa.

Demikian pengantar penulis. Semoga tulisan ini bermanfaat. Om Santhi, santhi, santhi, Om

1. PENDAHULUAN
Dua lagu wajib yang patut dilantunkan dalam berbagai acara, tcrmasuk acara Sukra Makemit maupun latihan yoga (Samadhi Traya Sandya) yang dilaksanakan oleh Dharmopadesa ialah Kidung

1) Dwijendra Stawa dan
2) Kindung Dang Hyang Astapaka Stawa.

Kidung Astapaka Stawa dilantunkan pada awal acara, dan kidung Dwijendra Stawa pada akhir acara.

Syair Kidung Dwijendra Stawa ditulis oleh I Gusti Bagus Sugriwa dan dimuat dalam buku Dwijendra Tatwa bertahun 1995. Hampir dua dasa warsa kemudian ditulis syair Dang Hyang Astapaka Stawa oleh Ida Pedanda Gede Made Gunung.

Kedua stawa itu termasuk pupuh alis-alis ijo/ demung wilis (dawa) patutan pelog, dan titi swaranya ditulis oleh Ida Bagus Putera.

2. DANG HYANG ASTAPAKA STAWA

Syair Dang Hyang Astapaka Stawa
Om Pakulun Hyang Sinuhun
Nda tan kencng calcra bawa
Hulun mangastawa mangke
Larapana manah tumus
Pangasraya yukti tulus
Dang Hyang Astapaka tunggil
Larapana sida ingkup Gama Bali Siwa Budha
Bina Ika Tunggal Ika Siwa Budha yukti tunggil
Hyang Asmaranatha iku
Kabawos kawit parnucuk Ida Dang Hyang raris nuju
Kaler kangin kang sinengguh
Maprayoga Buda keling nda tan tios

3. BANTANG BAWOS
SIWA-BUDHA DARI SISI TATWA

Konsepsi Astamurthi Siwa dalam berbagai sumber dapat dirumuskan sebagai berikut:

Siwa, Budha dan Bujangga disebut dengan Sang Katrini

SIWA—BUDHA DARI SISI HISTORIS
Pada abad XVI Dang Hyang Nirartha berencana melaksanakan upacara Homatraya di Kerajaan Bali yang saat itu diperintah oleh Dalem Waturenggong. Upacara itu akan dipuput oleh dang hyang Siwa, dang hyang Budha dan satrya putus. Berhubung saat itu di Bali belum ada dang hyang Budha paksa maka Dang Hyang Dwijendra memohon kakaknya, Dang Hyang Angsoka berkenan ke Bali.

Namun karena situasi di Iawa Timur tidak aman, maka Dang Hyang Angsoka mengutus putra beliau yaitu Dang Hyang Astapaka ke Bali. Berkat Dang Hyang Dwijendra dan Dang Hyang Astapaka, serta Dalem Waturenggong upacara Homa Traya berlangsung dengan sempuirna, dan sejak itu Kerajaan Bali mencapai jaman keemasan. 

SIWA—BUDHA DARI SISI SOSIOLOGIS
Kedatangan Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra ke Bali pada saat pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel (1460- 155O) bertujuan ganda:

1. Mempertahankan Bali dari desakan paham baru yang telah meruntuhkan Majapahit.
2. Meningkatkan dan menyempurnakan cara-cara hidup beragama Hindu di Bali menuju pada kemurniannya.

Beliau mengajarkan tentang Tripurusa dalam konsepsi Siwa Sidhanta yaitu: Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa yang diidentikkan dengan Trimurti. Beliau juga mengajarkan membuat pelinggih Padmasana sebagai pelinggih Hyang Widhi; melaksanakan Karya Eka Dasa Rudra di Besakih guna memohon kesejahteraan rakyat Bali; mengajarkan Panca yadnya; menyusun Weda yang menjadi pegangan para Pedanda di Nusantara; dan lainnya.

Sementara itu pemerintahan Sri Krsna Kepakisan di Bali yang berasal dari Majapahit menerapkan tradisi yang berlaku di Majapahit seperti dalam upacara-upacara agama yang besar dipinpin oleh pendeta Siwa dan Budha sebagaimana diuraikan di dalam kitab Negarakertagama yang kita warisi seperti sekarang. Kehadiran Dang Hyang Astapaka benar-benar dapat melengkapi cara-cara hidup beragama Hindu di Bali yang sebelmnnya telah ditata oleh paman beliau Dang Hyang Dwijendra. Maka sangat tepatlah penulis syair Dang Hyang Astapaka Stawa merangkai kata-kata dalam stawa itu.


4 UPARENGGA LANTURAN
Olch: Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten
Pagepuk Sastragama Sukra Makemit 18 September 2015

PUPUH SINOM
1
Sinampura ratu Pranda
Saiwa Bodha lanang istri
Indik kekirangan tityang
Manyurat sekadi mangkin
Tuna kruna tata titi
Tuna basa sastra guru
Ngiring rnangkin mapidabdab
Uperenggane kawitin
Singgih Ratu
Tityang jagi mapinunas

2
Rikala ngewangun karya
Wenten paring ngatih nglangit
Mabolong pitu mabina
Wre malit mangelutin
Swarannyane ngulangunin
Malih eeeeng malih uuuung
Tan sida antuk nguningang
Dulura manahe hening Napi Ratu
Artos sunari punika?

3
Mangkin lanturang tityang
Ratu Pranda sareng sami
Uparengga kaping rwa
Magenahang ring pretiwi
Kaswarayang para istri
Swarannyane klentang-klentung
Yening iwang pada girang
Masuryak makedek sami
Napi ratu
Artos ketungan punika?

4
Wenten malih tunas tityang
Ring dina Sukra makemit
Uparengga kaping tiga
Arep nyane manut angin
Kelod kauh kaja kangin
Swarannyane cedut-cedut
Punika maka panguntat
Mangda uning sareng sami Napi Ratu
Artos pindekan punika?


5. UPACARA YADNYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAIARAN TENTANG BERETIKA DAN BERTATTWA
Oleh: Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten
Pagcpuk Sastragama Sulcra Mekemit 16 Oktober 2015

1. PENDAHULUAN
Tiga kerangka Agama Hindu meliputiz Tattwa, Susila , dan Upacara. Ketiga-tiganya tidak berdiri sendiri tetapi merupakan satu-kesatuan. Ibarat sebuah telur, sarinya adalah tattwa, putih telurnya sebagai susila, dan kulitnya adalah upacara. (PHDP, 1978).

Tattwa berasal dari kata Tat dan Twa. Tat artinya Itu (bahasa Inggris: That) dan twa adalah akhiran yang dalam bahasa Inggris sama dengan “ness” yang mengandung arti kualifikasi atau keadaan. Tat dalam Tat Twam Asi adalah Brahman (Tuhan). Oleh karena itu Tattwa dapat diartikan: mengenai Tuhan atau Ketuhanan.

(Madrasuta, 1998).
Upacara ialah cara-cara melakukan hubungan antara Atman dengan Parama-atma, antara manusia dengan Hyang Widhi serta semua manifestasinya, dengan jalan yadnya nntuk mencapai kesucian jiwa (PHDP, 1978).
Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang artinya kebiasaan yang baik Kata yang juga sering dipakai untuk menunjukkan hal yang sama dengan etika ialah susila. Tata susila adalah peraturan tingkah laku yang baik (PHDIP, 1988).

2. UPACARA YADNYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAIARAN TENTANG BERETIKA DAN BERTATTWA
2.1 SIWA TATTWA

Dalarn Lontar Inanasiddhanta, Siwa tattwa diuraikan sebagai berikut:

Sa eko bhagavan sarvah, Siva karana karanam, aneko viditah sarvah, catur vidhasya karanam
Eka twa aneka twa swalaksana Bhattara Eka twa ngarannya, kahidep makalaksana ng Siwatattwa. Ndan tunggal, tan rwa tiga kahidepanira. Mangeka laksana Siwa karanajuga, tan paprabheda

A neka ngaranya kahidepan Bhattara makalaksana caturdha. Caturdha ngaranya laksananiran sthula, suksma, para, suniya. 

Artinya
Sifat Bhattara adalah eka dan aneka. Eka (esa) artinya ia dibayangkan berszfat Siwatattwa. Ia hanya esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya Bhatara dibayangkan bersifat caturdha artinya adalah sthula, suksma, para, sunya.

Sunya, para, suksma, dan sthula dalam lontar Wrhaspati Tattwa berturut turut dinyatakan sebagai Paramasiwa tattwa, Sadasiwa tattwa, Siwa tattwa, dan Maya tattwa. Paramasiwa taflwa, Sadasiwa tattwa dan Siwa tattwa disebut dengan cetana yang berarti pengetahuan, kesadaran, dan bersifat tetap; sedangkan Maya tattwa disebut dengan acetana yang berarti tanpa pengetahuan, ketidaksadaran serta berubah-ubah (Putra dan Sadia, 1988). Siwa tattwa dalam diri manusia dikenal dengan Atman atau sang jatidiri Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa adalah konsep tri purusa ajaran dari Dang Hyang Nirartha. Ajaran ini kemudian berkernbang menjadi panca srada, upacara panca yadnya, acara, dan susila agama Hindu yang berkembang di Bali dan Nusantara.

Tattwa adalah metafisika, tidak tampak oleh mata, namun dirasakan, dan diyakini ada. Siwatatwa: adalah bagian ontologi agama Hindu Bali, yaitu apa yang ditelaah atau apa yang menjadi pokok ajar. Oleh karena tattwa itu metafisika maka perlu media pembelajaran yang disebut upacara yadnya. A

2.2 UPACARA YADNYA DAN SIWATATTWA
Yadnya berasal dari akar kata yug, berarti mempersembahkan atau yac, perrnohonan. Yadnya telah dilaksanakan dari zaman pra Weda, kebudayaan Sungai Sindu, zaman Weda, Zaman Brahmana, Zaman Purana, dan seterusnya sampai kini. Sumber ajaran yadnya: dari Sruti dan Smrti

Upacara yadnya: adalah tattwa yang divisualkan mengambil bentuk tiga demensi atau fisika. Upacara adalah bagaimana mempelaj ari tattwa (Epistemologi).

Sunya, para, suksma, dan sthula diuraikan dalam lontar wrhaspati Tattwa, dan Tattwa Inana; serta disimbulkan seperti pada tabel berikut ini.

[TABEL - 39]

Keseluruhan nada, windu, arda candra, dan okara menjadi aksara suci Omkara atau pranawa Dan Om-kara kemudian disimbulkan dalam berbagai wujud seperti Ida Pedanda, Genta, Siwamba dan lain-lainnya (Sumber: Ida Pedanda Gede Made Gunung, 2015).

Selanjutnya dalam acara Sukra Mekemit tanggal 2 Oktober 2015 perkaitan upacara yadnya dengan Sang I-Iyang Tri Purusa, Ida Pedanda Nabe menjclaskan seperti pada tabel berikut:

[TABEL - 40]

Pada bait 9 dan 14 Kidung Puspa Sancaya buah karya Ida Bhatara Lelangit, Dang Hyang Nirartha, Siwa disimbulkan dengan bunga teratai atau padma. Dari bunga padma ini kemudian muncul berbagai padma seperti : 1 Padma Hrdaya, Padma di dalam hati atau pikiran; 2 Padma Raga, Padma di dalam diri; 3 Padmasana, Padma dalam bentuk bangunan; 4 Padma Rérajahan, Padma dalam bentuk gambar; 5 Padrna aksara, Padma dalam bcntuk huruf yang tersusun berposisi; 6 Padma Puja, Padma dalam bentuk nyanyian; dan 7 Padma Angelayang, Padma tanpa bentuk (Sumber: Ida Pedanda Gede Made Gunung, 2015)

2.3 UPACARA YADNYA DAN ETIKA
Sih kwa, tan warsih angamong sih, silih asih apulang sih, nir tuduh sih, salulut sih, suksman ing sih jroning sasih.
Artinya:
Kasihku, tidak pernah puas menjaga kasih, saling mengasih,
saling memberi kasih, tiada diketahui datangnya kasih,
terbuai kasih, hakikat kasih ada di dalam sinar bulan
(Puspa Sancaya bait 16).

Sada Siwa tattwa (Para) disimbulkan dengan matahari dan Siwa tattwa (Suksma, Atman) disimbulkan dengan bulan sabit yang bersinar sejuk yang berasal dari sinar matahari. Encrgi Siwa yang mengalir terus menerus dan tak terbatas dalam diri manusia itu adalah sinar kasih sayang (suksma ningsih jroning sasih)

Dalam upacara yadnya aliran kasih itu “dipanen” dengan media air yang disebut dengan tirta. Sehingga dikenal tirta Siwamba yang dimohonkan oleh Pedanda Siwa, tirta Wangsuhpada dan tirta Iainnya.

Pada bagian akhir upacara yadnya tifia dipercikan mulai dari sanggar surya, pelinggih-pelinggih banten-banten dan para bakta. Hal ini bermakna hendaknya manusia mengungkapkan kasih sayang tidak saja kepada pada Hyang Siwa juga kepada tanaman, binatang lingkungan dan manusia sendiri yang merupakan stula dari Bhatara Siwa

Siwa dalam wujud tirta dapat dilacak di Pancaksara Stuti, dalam Weda Parikrama, sebagai birikut.
Pancaksaram maha-tirta, pawitram papa nasanam. Papa koti sahasranam, agadham bawet sagaram

Artinya:
Panca aksara adalah tirta yang utama, menyucikan dan menghancurkan semua papa, untuk ribuan juta kepapaan, ia
akan merupakan lautan obat
Pancaksara adalah Na, Ma, Si, Wa, Ya, yang berarti penghormatan kepada Siwa.

Doa Pancaksara ini sangat suci dan kuat untuk menghindarkan hambatan serta halangan, menyembuhkan berbagai penyakit, melebur bencana malapetaka dan dosa dari penyembah yang taat, apabila diucapkan dengan rajin dan tekun setiap hari dan setiap saat. Maha mantra Pancaksara Na, Ma, Si, Wa, Ya, ini akan memberikan kedamaian serta ketentraman batin dalam upaya pendakian spiritual Dengan demikian upacara yadnya juga dapat diartikan sebagai proses pembelajaran bagaiman kita mendapat kckuatan kasih sayang Siwa (susila), yang dapat diartikan scbagai Epistemologi dari Agama Hindu Bali

Susila atau spiritualitas adalah penerapan pembelajaran yadnya dalam perilaku kehidupan sehari-hari, yang merupakan bagian aksiologi dari Agarna Hindu Bali.
Tirta dalam arti spiritualitas dapat ditelusuri dalam Dwijendra Tatwa seperti berikut. “

Pikiran tetap bersih, tidak melanggar hukum agama, dan hukum negara; tidak berlaku curang, palsu, clan menipu; serta selamanya berlaku jujur, adil, dam disiplin dalam segala tugas dan kewajiban. Pikimn seperti itu ibarat tirta (air suci) sebagai pembersih diri sekala maupun niskala (lahir maupun batin)

3. KESIMPULAN
Dari uraian bab sebelumnya dapat ditarik beberapa kesimpulan seperti berikut.
1. Landasan keirnanan (sradha) agama Hidu Bali kepada Tuhan adalah Siwa Tattwa dengan paham monisme (eka tua aneka tua swa laksana bhatara).

Upacara Pahca yadnya adalah media pembelajaran beretika dan bertattwa, yaitu bentuk tiga demensi dari Siwa Tattwa yang bertujuan “rnemanen” sinar kasih Bhatara Siwa ke dalam bentuk tirta

Susila, spiritualitas adalah penerapan kasih sayang dalarn kehidupan sehari-hari baik kepada Siwa (Tuhan), lingkungan, masyarakat maupun diri sendiri

DAFTAR PUSTAKA
Ida Pedanda Gede Made Gunung. 2015. Relevansi Konsep Padma dengan Keberadaan Wangsa Brahmana Saiwa Bodha di Bali. Makalah Sukra Mekemit. 19 Iuni 2015.
Ida Pedanda Gede Made Gunung. 2015. Pakilitan Upacara Yadnya Sareng Sang HYang Tri Purusa Tatttwa. Makalah Sukra Mekemit. 2 Oktober 2015.
Madrasuta, N.M. 1998. Tattwa. Dalam WHD No. 372. hal 7-8. PHDP. 1978. Upadesa, tentang Ajaran-ajaran Agama Hindu. 99 hal. PHDIP, 1988. Pedoman Pernbinaan Umat Hindu Dharma Indonesia. PT Upada Sastra.83.


6. KESADARAN SIWA RENUNGAN SUCI SARASWATI
Oleh: Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten Makalah Dhanna Wacana dalam Perayaan Siwaratri
Pasraman Dharma Wasitha, Mas Gianyar 8 Ianuari 2016

1. PENDAHULUAN
Siwaratri artinya “malam Siwa”. Kata Siwa berasal dari bahasa Sanskreta yang artinya baik hati, suka memaafkan, memberi harapan, mernbahagiakan. Dalam hal ini kata Siwa adalah sebuah gelar atau nama kehormatan untuk salah satu manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berfungsi sebagai pamrelina atau pelebur untuk mencapai kesucian atau kesadaran diri yang memberikan harapan kebahagiaan. Ratri artinya malam. Malam di sini juga diartikan kegelapan. Iadi, arti dari Siwaratri adalah malam untuk melebur atau memprelina kegelapan hati menuju jalan terang (Rai Sudharta, 1990).

Hari Raya Suci Siwaratri adalah salah satu upacara keagamaan umat Hindu Bali. Hari raya "mi datang setahun sekali yaitu pada panglong ping 14 sasih ke pitu (sehari sebelum bulan mati pada bulan Ianuari). Penyambutannya ditandai dengan pelaksanaan brata Siwaratri seperti upawasa, monobrata, dan jagra. Di samping itu secara khusus diadakan upacara menghaturkan punia kepada sulinggih dan masyarakat luas (Agastia, 1997).

SUMBER AIARAN SIWARATRI
Sumber ajaran Siwaratri ialah kakawin Siwaratrikalpa karya Empu Tanakung pada zaman Majapahit. Kisah ceritera dalam kekawin itu bukan ciptaan Mpu Tanakung, tetapi Sang Pujangga yang telah rnenghasilkan sebelas kekawin itu mengambilnya dari kitab Padma- purana (bagian Utarakanda), salah satu purana dari cmpét buah purana dalam bahasa Sanskerta yang memuat kisah serupa. Kitab purana lain yang dimaksud ialahz Siwa purana (bagian

nanasamhita), Skanda purana (bagian Kedakarakanda), Garuda purana (bagian Acarakanda) (Agastia, 1997)
Sumber berbahasa Iawa Kuna selain Siwaratrikalpa (kekawin Lubdaka) ialah Lontar Aji brata, Lontar Gaguritan Siwaratri, Lontar ?;ja Siwaratri, Lontar Lubdaka Carita, Lontar Brata Siwaratri, dan Lontar Tutur Siwaratri (Rai Sudharta, 1990).

Dalarn Siwaratri Kalpa Ernpu Tanakung menyatakan bahwa tujuan fienyususn karya tulis itu ialah sebagai sarana untuk menemui xebebasan sejati (sadhana ning umusirang nirasraya: Siwaratri Kalpa 1.3). Kebebasan sejati berarti pikiran bebas tidak terikat oleh hal-hal "yang bersifat duniawi, akan tetapi pikiran tcnggelam dalam kesadaran Siwa (Atma). Bagai.manaka.h kaitan brata Siwaratri dengan kesadaran Siwa itu?

2. RINGKASAN CERITERA LUBDHAKA
Dalam Siwaratrikalpa diceriterakan Lubdaka, seorang pemburu sangat tcrkenal tinggal bersama istri dan anaknya di puncak sebuah gunung yang indah dan penuh pesona. Pekerjaannya selalu berburu binatang seperti harimau, babi, gajah, scfla badak, dan hasil buruannya itu cukup dipakai untuk menghidupi seluruh keluarganya.

Pagi hari di panglong-14 sasih ke pitu (sehari sebelum bulan mati di bulan Ianuari) berangkatlah Lubdaka seorang diri berburu ke arah timur laut, melintasi lembah ngarai, persawahan, gunung, air texjun yang indah dengan tanam-tanarnan bunga yang menyebar harum. Setelah pemandangan indah dan asri itu ia lewati kini saatnya ia rnemasuki kawasan hutan dan pegunungan tempat binatang buruan berkumpul yang membuat rasa sejuk sang pemburu berganti menjadi was-was.

Siang berganti senja kini Lubdaka merasa lesu, kesakitan, dan bingung karena tidak seperti biasanya, tak satupun jejak kaki binatang buruan yang ia temukan hari itu. Di tengah kebingungannya itu, tiba-tiba ia menemui sebuah telaga yang luas, di sana ia mencuci muka, mandi, dan minum air telaga yang sejulc Terlintas dalam pikirannya untuk bermalam di sana sambil menunggu kalau-kalau ada binatang yang datang dan minum kc telaga.

Malam bertambah malam, segera ia rnemanjat sebuah pohon maja yang dahannya menutupi telaga, dan sang pemburu mengambil posisi duduk menghadang binatang buruan yang kemungkinan minum kc sana. Setelah tiga jam menunggu tak satupun binatang yang datang. Sementar itu rasa kantuk dan takutnya menyatu, sebab kalau sampai tertidur tak urung akan jatuh dari pohon dan tak hayal akan menjadi mangsa binatang buas. Oleh karena itulah ia berihtiar clengan mememtik dan membuang satu per satu daun maja itu yang secara kebetulan tepat jatuh di atas sebuah Siwalingga alamiah yang ada di tengah telaga itu.

Ketika hari sudah pagi Lubdhaka turun dari pohon itu kernudian bergegas berangkat pulang tanpa membawa binatang hasil buruan, melintasi tempat-tempat indah yang ia lalui waktu berangkat sebelumnya. Sampai di rumah hari telah senja, ia disambut dengan gembira oleh anak istrinya.

Beberapa tahun kernudian kondisi Lubdhaka semakin lemas, ia menderita sakit yang tak terobati, dan akhirnya sang pemburu yang sangat terkenal itu rnenemui ajalnya. Raganya yang telah menjadi mayat kemudian dibakar sarnpai menjadi abu, dan jiwanya dalam kesedihan rnelayang di angkasa serta tidak mengetahui jalan menuju surga. Melihat jiwa Lubdhaka seperci itu, Bhatara Siwa kemudian mengutus abdinya para Ganabala untuk menjemput dan mengantar ke Siwaloka, rnengingat dahulu semasa hidupnya Lubdhaka pernah melaksanakan brata Siwaratri dengan tepat (Agastia, 2002).

LOBDAKA SEORANG PAPA MENCAPAI SIWALOKA
Sangkan-sangkan alit taman hanang ulah dharmeriya mwang yasa, anghing lot mabum gawainia mamating mong wek gaja mwang warak.

Sejak kecil tidak ada perbuatan dharma dan yasa yang iilalcsanakannya; namun senantiasa berburu, pekerjaannya "zembunuh harimau, babi, gajah, dam badak (Siwaratri Kalpa. 2.2 ab).

Satata turung mapunia yasa dharma len brata gatinia kasmala dahat. Sesungguhnya ia tidak pernah berbuat punia, yasa, dharma, dan brata perbuatanya sangat cemar( Siwaratri Kalpa 5.6 c).

I ti na gawainia satatanuwuki sakaseneng ning indriya.
Itu yang dilakukannya untuk memenuhi kesenangan indrianya. (Siwaratri Kalpa 8.7 d)
Dalam kitab Wrehaspati~tattwa disimpulkan bahwa orang yang dibelenggu oleh raga atau indrianya seperti Lubdhaka itu dinyatakan sebagi orang papa atau orang yang tidak tahu jati dirinya. Namun karena semasa hidupnya Lubdhaka pernah rnelaksanakan brata Siwaratri dengan tepat maka rohnya dapat mencapai Siwaloka (Putra dan Sadia, 1998).

Dengarlah perkataanku sebab musabab Si Lubdaka berhasil masencapai Siwalaya; pada masa lampau Aka pernah mengajarkan brata Siwarajani untuk disebar luaskan; namun sejak Aku menciptakan sama sekali belum ada yang melaksanakan; karena lamanya aku lupa dengan brata yang kuajarkan itu dan belum ada yang melaksanakannya (SiwaratriKalpa 34.3)
Sungguh utama brata yang kuajarkan dan pasti akan rnendapatkan pahala utama; lagi pula akan rnenghilangkan segala bentuk kejahatan/ dosa (milagaken saduskreta) dan mendapatkan kesejahteraan hidup serta Qkebahagian; setiap orang yang melaksanakan brata tersebut pasti tidak akan menernukan sengsara; tidak salah lagi segala bentuk penderitaannya akan dilebur (sapapa nika sirna) oleh brata Siwalatri yang Kuajarkan itu (Siwaratri Kalpa 34.4). V

3. KESADARAN BADAN, DAN KESADARAN SIWA
Pikiran mempunyai empat fungsi. Bila pikiran sibuk dalam proses pemikiran disebut manas ; bila berfungsi sebagai penyimpan ingatan dan perasaan ia disebut chitta ; bila sibuk dalam proses penyelidikan batin dan membeda-bedakan antara yang benar dan salah, ia disebut buddhi; dan bila menyarnakan diri dcngan badan jasmani serta merasa mclakukan berbagai kegiatan, ia disebut ahamkara(ego).

AHAMKARA2 KESADARAN BADAN
Bila ahamkam rnenguasai pikiran maka buddhi, pintu batin akan tertutup oleh ahamkara sehingga sinar terang Atma menjadi terhalang dan pikiran menjadi gelap, Dalam suasana gelap itu muncullah anak buah ahamkara seperti: sadripu (enam jenis musuh), dan saptdtimira (tujuh macam kegelapan atau kemabukan). Sadripu meliputi: kama (nafsu), lobha (kelobaan), krodha (kemarahan), mada (kemabukan), moha (kebingungan), dan matsarya (iri hati).
Saptatimira meliputi: surupa (rupa tampan, cantik), dhana (kekayaan), guna (kepandaian), kulina (keturunan, kebangsawanan), yowana (keremajaan), sum (minuman keras), dan kasuran (kemenangan).
Sclanjutnya, jika sadripu dan saptatimira sudah menguasai pikiran maka muncullah berbagai penyakit seperti: sakit spiritual, sakit mental, sakit social, sakit lingkungan, dan sakit fisik

SAKIT SPIRITUAL
Sakit spiritual yang mungkin terjadi antara lain : 1 Rasa diampuni berganti menjadi rasa bersalah. 2 Rasa percaya diri berganti menjadi rasa kawatir.3 Rasa nyaman berganti menjadi rasa takut. 4 Rasa damai berganti menjadi marah dan 5 Rasa puas berganti menjadi rasa tidak cukup.

SAKIT MENTAL
Sakit mental yang mungkin terjadi antara lain: 1 Suka lupa seperti linglung. 2 Tidak dapat memusatkan pikiran untuk sesuatu masalah, ketidak sanggupan berinteraksi, dan persepsi yang menurun. 3 Sukar membuat keputusan. 4 Gampang tersinggung dan frustasi kalau ada satu-dua masalah yang dihadapi. 5 Rasa harga diri menurun. 6 Kurang berperasaan. 7 Gampang panic. 8 Tawar hati karena otak kurang berfungsi.

SAKIT SOSIAL
Sakit sosial yang rnungkin terjadi antara lain: 1 Suka menyendiri. 2 Bersifat agresif. 3 Gampang tersinggung. 4 Over konvensasi. 5 Mau menguasai. 6 Menjadi pendiam atau berbicara berlebihan. 7 Kekakuan dalam bergaul, dan 8 Sadatatayi.

Sadatatayi meliputi: agnida (membakar Inilik orang lain), wisada (meracun), atharwa (melakukan ilmu hitarn), sastraghna (mengamuk), dratikrama (memperkosa), rajapisuna (rnemfitnah). SAKIT LINGKUNGAN V

Sakit lingkungan yang mungkin terjadi antara lain, tidak suka rnenjaga kebersihan; mebuang sarnpah sembarangan, dan lainnya. SAKIT FISIK
Selajutnya sakit fisik yang mungkin terjadi antara lain:

  1. Ruam pada kulit, bisul, alergi, jantung, kaku pada sendi, dan gangguan darah akibat dari kemarahan, kepahitan, dan kebencian.
  2. Flu, pneumonia, TBC, gangguan pernafasan, gangguan mata, hidung, kerongkongan, dan asma akibat dari kebingungan, frustasi, dan kemarahan.
  3. Tekanan darah tinggi, migrcn, bisul, rabun ayam, kurang pendengaran, dan serangan jantung akibat dari kecemasan, ketidaksabaran, dan ketamakan.
  4. Tekanan darah rendah, anemia, polio, diabetes, gangguan ginjal, dan kusta akibat dari kesinisan, pesimis, dan mudah menyerah.
  5. Kecelakaan, kanker, kegagalan, kemiskinan, sek yang buruk, dan darah kotor akibat dari perubahan perasaan yang mendadak, ketakutan, dan perasaan yang bersalah.
  6. Alergi, sakit kepala, kurang teman, kecelakaan dan deg-degan akibat dari antagonis, perasaan rendah diri, dan tertutup. Jadi, Ahamkara rnengantarkan orang ke jalan gelap, keterikatan duniawi, kesadaran badan (lupa diri, tidak tahu diri), berbahaya, kebahagiaan yang berakhir dengan kekecewaan: sakit spiritual, sakit mental, sakit social, sakit lingkungan, dan sakit fisik sehingga berpengaruh tidak baik terhadap pelaksanaan swadharma seseorang. 

BUDDHI: KESADARAN SIWA
Berbeda dcngan ahamkara, buddhi tidak dipengaruhi oleh factor luar bersifat rasional, mampu memilah-milah mana yang benar dan mana yang, salah, mampu menganalisis, tidak terpengaruh oleh prasangka, atau anggapan sehingga tidak salah mcmberi perintah. Iadi buddhi mengantar orang kc jalan pintu batin terbuka, terang, cintakasih, kesadaran Siwa (Atma).

4. BRATA SIWARATRI
Dalam Siwaratrikalpa, Wirama 37 brata Siwaratri beserta pelaksanaan upacara Siwaratri diutarakan sebagai berikut:

  1. Pagi hari setelah siap menyatukan pikiran yang berkepentingan patut menghadap Sang Pendeta; bersujud dan mohon izin untuk melaksanakan brata dengan mematuhi petunjuknya; sesudah mandi dan berkumur lalu melakukan pemujaan kehadapan Hyang Siwaagni; dilanjutkan dengan upawasa (berpuasa), mana brata (diam) dan berpakaian bersih.
  2. Setelah siang hari berlalu, pada malam harinya patut melek jangan sekali kali tidur; selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan Siwalingga yang bersemayam di alam Siwa; didahului dengan memuja Hyang Garza dan Hyang Kumara; pada malam harinya melakukan Yamapat yang disesuaikan dengan batas kemampaan.
  3. Bunga menuh, kenyeri, gambir arja, kecubung, waduri putih dan putat; banga asoka, nagasari, serta tangguli, bakula, kalak dan cempaka; teratai merah, putih dan bim, serta segala jenis bunga harum disiapkan pada saat ita; utamanya pucuk muda daun bila, dan bunga sulasih sebagai sarana untuk memuja Bhatara Siwa.
  4. Dan segala wangi-wangian, dupa wangi, minyak serta lampu disiapkan pada malam hari; dengan sajen bubur dicampur susu, dan bubur kacang hijau dicampur gala merah; itulah antara lain jenis sesajen dilengkapi dengan buah-buahhan, nasi, dan lauk pauk; hal itu patut dilaksanakan semalam suntuk dan jangan lupa memusatkan pikiran.
  5. Kendang dan berbagai jenis gamelan sebagai penghibur untuk menghalau kantuk. Dapat juga dengan membaca kidung dan membaca lontar kekawin ataa olah rasa dan pikiran; syukur bila dapat membaca dan menghayati kisah Lubdhaka pada saat ita; pasti akan menemukan sorga bagi orang yang membaca cerita Lubdhaka.
  6. Ketika malam sudah berlalu dan menjelang pagi hari patut memberikan dana punia pada tempat tertentu; Siwalingga dari emas dipersernbahkan kepada Sang Pendeta Utama; setiap orang yang datang patut diberikan dana punia sesuai dengan kemampuan dan jangan sekali mereka ditolak; dilanjutkan dengan tidak tidur pada siang harinya dan jangan melaksankan pekerjaan tanpa kesadaran.
  7. Kendatipun tidak melaksanakan brata, tetapi dengan kesadaran tidak tidur sama sekali pada saat itu; segala tingkatan usia seseorang tua muda, pria wanita atau yang masih remaja; mereka pasti akan menuju Siwalaya menikmati kebahagiaan dan tidak kembali menemukan penderitaan batin; segala kehendak mereka akan tercapai sebagai pahala perbuatannya yang baik (Agastia, 2002). Kata-kata kunci yang berkaitan dengan brata Siwalatri ialah: gurugreha (Ida Pedanda), upawasa (puasa), mona (tidak berbicara), dana punia. Menurut brata Siwaratri, dalarn pendakian spiritual sebaiknya diawali dengan mohon petunjuk kepada Ida Pedanda. Selanjutnya pengendalian pikiran yang diawali dengan pengedalian indriya lidah. Lidah memiliki dua fungsi kc dalam berkitan dengan makanan dan minuman (upawasa), kc luar berkaitan dengan berbicara (mona). Pengendalian lidah hendaknya dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, memberi punia juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari artinya hidup ini scbaiknya melayani sesuai dengan swadharmanya dan bukan untuk dilayani . Demikianlah upacara Siwaratri mengajarkan pada umat Hindu brata dan punia sebagai jalan pembebasan dari belenggu indria menuju kesadaran jatidiri (kesadaran Siwa).

PERIHAL MAKANAN DAN MINUMAN
Makanan yang kita rnakan setelah proses pencernaan bagian yang paling kasar di keluarkan rnelalui lubang pelepasan, bagian yang halus menjadi darah, otot dan daging, serta bagian yang paling halus mengambil wujud pikiran. Badan atau selubung makanan (annamaya kosa) terutama berasal atau terbentuk dari makanan. Bagian halus dari air yang diminum membentuk selubung
kehidupan (pranamaya kosa), dan bagian air yang kasar dikeluarkan sebagai urine. Selubung makanan dan selubung kehidupan berpengaruh terhadap tiga selubung lainnya yaitu selubung mental (manomaya kosa), selubung budi (widnyanarnaya kosa), dan selubung kebahagiaan jiwa (anandamaya kosa). Ini berarti, betapa pentingnya makanan dan minuman dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian manusia (Wastuwidya dkk., 1995). Makanan terdiri dari tiga jenis yaitu rnakanan rajasik, tamasik, dan satwika. Makanan rajasik adalah makanan yang terlalu masam, asin, pedas, kering, keras dan angus, yang merangsang munculnya sifat— sifat ekstrim seperti marah, bangga, sombong, egois, angkuh dan lainnya. Makanan tamasik adalah makanan yang basi, hambar, berbau, dingin, sisa kernarin, dan kotor yang merangsang munculnya

sifat~sifat tamasik scperti tidur, lamban, dan malas dan lainnya. Sebaliknya, rnakanan satwika adalah makanan yang seimbang, moderat, tidak panas, dan tudak pedas, dalam perut terasa nyaman, tidak menyebabkan kelainan pencernaan sehingga menimbulkan ketenangan dan keheningan dalam pikiran. (Aditya, 1999).

Untuk mendapatkan masakan yang satwika, ada tiga hal yang harus mendapat perhatian yaitu: bahan-bahan makanan yang akan dimasak dan alat-alat yang dipakai memasak harus bersih secara sekala dan niskala. Selain itu, pikiran dan perasaan orang yang

rnemasak harus jernih. Iika tidak demikian, energi negatif yang berasal dari bahan makanan, alat masak, dan pikiran tukang rnasak itu akan berpenganlh tidak baik terhadap pikiran orang yang mengkonsumsi makanan itu. Oleh karena itu sebelum makan kita harus berdoa dahulu mohon kepada Tuhan agar makanan itu disucikanNya.
Disiplin mengkonsumsi makanan satwika bukan hanya berarti makanan yang dirasakan lidah saja, tetapi juga termasuk udara bersih yang kita hirup melalui hidung, sedapat mungkin hindari udara
kotor, dan asap rokok; pemandangan yang menyejukkan yang kita lihat melalui mata, hindari hal-hal yang buruk, film-film dan buku yang tak bermutu; suara indah dan harmoni yang kita dengar rnelalui telinga, hindari segala bentuk gosip, fitnah, dan skandal; benda- benda bersih yang kita sentuh melalui kulit, hindari benda—benda yang kotor.(Aditya, 1999).

Upawasa adalah salah satu bentuk latihan pengendalian pikiran melalui pengaturan makanan dan minuman, dan berkata-kata yang baik dilatih dengan monabrata. Iika lidah terkendali secara terns- menerus maka pikiran akan mencapai kondisi henehg dan kemudian menjadi hening. Selanjutnya dalam kehidupan sehari-hari hendaknya membiasakan diri mepunia /melayani (ingat karma tanpa phala, Aku phalania) bukan hidup untuk dflayani. Iika rangkaian ini diyakini, dilatih dengan tekun dan penuh disiplin maka suatu saat akan tercapai kondisi henung yaitu “ujung” pikiran akan konek dengan “ujung” sang jatitidiri (Siwatman). Kondisi hemmg inilah yang dimaksud dengan jagra, eling, kesadaran jatidiri atau kesadaran Siwa. Inilah yang patut menjadi renungan suci Siwaratri malam ini.

5. PENUTUP
Rangkaian brata Siwaratri yang diawali dengan mohon ijin/petunjuk pada Sulinggih, yang dilanjutkan dengan upawasa, mona brata dan pemberian punia merupakan suatu pernbelajaran atau renungan tentang Siwa tatwa dan kesadaran Siwa. Renungan suci ini hendaknya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari (spiritual) untuk mencapai kesadaran Siwa.

DAFTAR PUSTAKA
Aditya, Sudha. 1999. Curahan Belas Kasih. Penerbit Paramita. Surabaya. 118 hal.
Agastia, IBG. 2012. Percikan Siwaratri. Yayasan Dharma Sastra. 168 hal.
Rai Sudharta, T. 1990. Siwaratri Makna dan Upacara. 54 hal.

Wastuwidya, N.I, Y. Susianti, dan T. Retno Buntoro. 1995. Wacana Musim Panas. Komite Penerbitan Buku Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia. Jakarta. 226 hal.

7 MOKSA
Oleh:
Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten Pagepuk Sastragama Sukra Mekemit 29 Ianuari 2016

PENDAHULUAN
1. AGAMA HINDU BALI
Dalam Paruman Para Wiku Loka Saba V Parisada Dharma Hindu Bali tentang identitas agama Hindu di Bali tanggal 28 Ianuari 2007 telah diputuskan Piagam Samuhan Tiga yang rnemuat cirri-ciri agama Hindu Bali sebagai berikut:
1. Dasar pelaksanaan agama mengacu pada Weda Sruti Weda Smreti, Darsana, Tantra dan kearifan lokal yang disarikan ke dalarn lontar-lontar.

2. Landasan keimanan (sradhal kepada Tuhan adalah Siwa Tatwa dengan paham rnonisme (eka tua aneka tua swa
laksana bhatara).

3. Menyembah Tuhan (Sang Hyang Widhi) lebih khusus disebut Bhatara Siwa, Dewa-dewi dan Hyang Leluhur.

4. Mempunyai tempat pernujaan yang disebut sanggah /pemerajan clan pura.

5. Melaksanakan upacara panca yadnya menggunakan banten dengan pakemnya yang khas dipimpin oleh wiku huwus kertha diksita dan pemangku dengan atribut serta sesana yang khas pula. .

6. Agama Hindu yang menjadikan sosio-kultural Bali sebagai media pelaksanaannya.

SIWA TATTWA
Dalarn Lontar Inanasiddhanta, Siwa Tattwa diuraikan sebagai berikut:

Sa eko bhagavan sarvah, Siva karana karanam, aneko viditah sarvah, catur vidhasya karanamEka twa aneka twa swalaksana Bhattara
Eka twa ngararmya, kahidep makalaksana ng Siwatattwa. Ndan tunggal, tan rwa tiga kahidepanira. Mangeka laksana Siwa karana juga, tan paprabheda

Artinya
Szfat Bhattara adalah eka dan aneka. Eka (esa) artinya ia dibayangkan berszfat Siwatattwa. Ia hanya esa, tidak
dibayangkan dua atau tiga. Ia berszfat esa saja sebagai
Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka
artinya Bhatara dibayangkan bersifat caturdha artinya
adalah sthula, suksma, para, sunya.

Pararnasiwa (sunia), Sadasiwa (para), dan Siwa suksma) adalah konsep tri purusa ajaran dari Dang Hyang Nirartha. Ajaran ini kemudian berkembang menjadi panca srada, upacara panca yadnya, acara, dan susila agama Hindu yang berkembang di Bali.

Panca Srada atau lima keyakinan ialah yakin terhadap adanya 1 Sang Hyang Widhi (Tuhan), 2 Atma, 3 Karmaphala, 4 Punarbawa, lahir kembali dan 5 Moksa. Pada acara Pagepuk Sastragama Sukra Mekemit tanggal 29 Ianuari 2016 akan diangkat Moksa sebagai bantang bawos. Dua rnasalah sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut.

Apakah moksa itu? dan bagairnanakah caranya mencapai moksaitu?

2. APAKAH MOKSA ITU?
MOKSA DALAM DWIIENDRA TATTWA

Setelah Ki Pasek Nambangan pergi, maka Dang Hyang Nirartha
mulai melakukan yoga Samadhi, bersiap untuk meninggeflkan dunia ini. Beberapa saat kemudian Beliau moksa ngaluhur, cepat sebagai kilat masuk ke angkasa. Ki Pasek Nambanagn memperhatikan juga peristiwa itu dari tempat yang agak jauh, namun ia tidak melihat Dang Hyang Niranha, hanya cahaya cemerlang dilihat kc angkasa (Sugriwa, 1991)..

MOKSA DALAM SIWARATRI KALPA
Dalam Siwaratri Kalpa Empu Tanakung menyatakan bahwa tujuan menyususn karya tulis itu ialah sebagai sarana untuk menemui kebebasan sejati (sadhana ning umusirang nirasraya: Siwaratri Kalpa 1.3). Kebebasan sejati berarti pikiran bebas tida.k terikat oleh hal-hal yang bersifat duniawi.
Dalam kitab Wrehaspati-tattwa disimpulkan bahwa orang yang dibelenggu oleh raga atau indrianya seperti Lubdhaka itu dinyatakan sebagi orang papa atau orang yang tidak tahu jati dirinya. Namun

karena semasa hidupnya Lubdhaka pernah melaksanakan brata Siwaratri dengan tepat maka rohnya dapat mencapai Siwaloka, moksa.

TUJUAN AGAMA HINDU
Moksartham jagaddhitaya ca iti dharmah
Tujuan agama ialah untuk mencapai kelepasan, kebebasan, atau kesempurnaan roh dari ikatan duniawi, juga berarti manunggalnya roh dengan Tuhan (panunggalin kawula Ian Gusti) (Moksa); dan kesejahteraan umat manusia, kedamaian, dan kelestarian dunia (Iagaddhita) ( Oka Punia Atmaja, 1992).
Tujuan Agama (dharma) adalah untuk mencaoai moksa dan kesejahteraan umat manusia. Moksa berarti kebcbasan dari ikatan keduniawian, bebas dari kharma phala, bebas dari samsara. Moksa akan tercapai bukan saja setealah manusia mengakhiri hidupnya di dunia ini, tetapi di dalam dunia inipun moksa itu dapat dicapai. Keadaan ini discbut jiwan-mukti atau moksa semasih hidup.
Iaagdhita juga disebut dengan istilah bhukti yang berarti kemakmuran kehidupan masyarakat dan Negara (PHDP, 1967). Tujuan Agama Hindu ialah untuk menuntun manusia mendapatkan kesejahteraan fisik material (jagadhita) dan kesejahteraan mental spiritual (moksa). Moksa atau Mukti adalah kebahagian rohani yang tertinggi, bersatunya Atma dengan Brahman. Moksa berarti kebebasan atau kelepasan dari ikatan karma; kelahiran dan kematian; serta belenggu dari penderitaan keduniawian (PHDIP, 1988),

TUJUAN HIDUP
Dharmaarthakamamoksanam sariram sadhanam (Brahma Puxana. 228,45)
Tubuh adalah sarana untuk mendapat Dharrna (kerohanian dan kebajikan), Artha (sarana hidup dan harta benda), Kama (naluri, nafsu dan keinginan), dan Moksa (kelepasan roh dari penderitaan duniawi serta kehidupan abadi di akhirat) (Oka Punia Atrnaja, 1992). Keempat hal ini yaitu Dharma, Artha, Kama, Moksa disebut dengan Catur Purusartha yang merupakan tujuan hidup rnenurut ajaran Agama Hindu (PHDIP, 1988).

3. LANGKAH-LANGKAH MENCAPAI MOKSA
Dibenak hati masyarakat telah terkristalisasi bahwa yang dimaksud dengan moksa adalah mati tanpa jasad, seperti yang dialami oleh Ida Bhatara Lelangit, Dang Hyang Dwijendra. Beberapa orang yang spiritualitasnya tinggi mengetahui hari dan jam dirinya meninggal dunia, seperti yang dialami oleh Ida Pedanda ayahda Ida Pedanda Nabe. Orang-orang yang demikian itu telah mencapai moksa utama, artinya ikatan keduniawian telah habis semua (“moksa cash”). Sementara itu untuk masyarakat kebanyakan moksa dapat dicapai secara bertahap, misalnya dimulai melepas ikatan kebiasaan meceki, kebiasaan minum beralkohol, merokok dan lainnya. Moksa seperti ini adalah “moksa kredit” (Ida Pedanda Gede Made Gunung, 2016. Kornunikasi pribadi).
Moksa dizaman Weda (2000SM-IOOOSM) hanya dapat dicapai melalui yadnya. Kemudian dizaman Brahmana (1000SM- 300M) bahwa moksa tidak saja dapat dicapai dengan yadnya tetapi juga melalui etika dan spiritualitas (Phalgunadi, 2010).

CATUR YOGA DAN MOKSA
Moksa dapat dicapai dengan empat jalan yang disebut
dengan catux yoga yaitu: Karma yoga, bhakti yoga, jnana yoga, dan raja yoga. Bagi masyarakat pada tahap brahmacari, dan grehasta penekanannya melalui karma yoga dan bhakti yoga (prawretti marga). Bagi kelornpok wanaprasta dan biksuka penekananya pada jnana yoga dan raja yoga (nirwretti marga). Dasar dari catur yoga (catux marga ) itu ialah ketidak terikatan. Seorang Karmi melepaskan buah-buah dari hasil kerjanya (Karma tanpa phala, Aku phalania). Seorang Bhakta melepaskan segala ikatan cinta keluarganya, demi bhakti terhadap Tuhan dan semesta. Seorang jnani melepas segala sesuatunya, karena pengetahuannya (filsafat) bahwa aiam itu tidak pernah ada (maya) baik di masa silam, sekarang dan masa yang akan datang. Seorang yogi melepas pengalaman pengalamannya, karena filsafatnya bahwa ia bcrdiri kekal dan terpisah dengan alam (Vivekananda, 1963).
Pembelajaran dan pelatihan dari catur yoga itu ialah dengan pelaksanaan Panca Yadnya yaitu Dewa Yadnya, Resi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya. Dalam Brahmana Purana yadnya diartikan sebagai wclas asih. Iadi, Dewa Yadnya adalah selalu welas asih (bhakti) terhadap Hyang Widhi ; Rsi yadnya welas asih terhadap sulinggih; Pitra yadnya hormat kcpada leluhur; Manusa yadnya welas asih pada sesame; dan Bhuta yadnya sayang terhadap lingkungan.

Hasil pembelajaran dan latihan catur yoga melalui panca yadnya selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (spiritual) sehingga ikatan-ikatan keduniawian itu dapat dilepas tahap demi tahap untuk mencapai moksa.

Sejalan dengan hal di atas telah diuraikan secara rinci oleh Ida Pedanda Nabe tentang Catur Rasa Prabawaning Siwa sebagai berikut:

1.
2.
3 Salokya, yang artinya Para Pedanda sepatutnya setiap hari merasakan satu wilayah dengan Ida Bhatara Siwa. Caranya
ialah setiap baru bangun, sebelum duduk di tempat tidur,
sudah mcncakupkan tangan menyembah Ida Bhatara Siwa, menghaturkan terima kasih, karena Beliau memberikan
waktu tidur yang bailc Setelah itu kemudian mencakupkan
tangan turunkan lagi sedikit dekat dengan hanahata cakra
lalu berdoa dalam hati, seluruh yang ada ini menyebabkan
keasrian dan kebaikan, semoga keasrian dan kebaikan itu
datang keseluruh kehidupan ini. Latihan ini sepatutnya
dilaksanakan setiap hari tanpa kecuali. Maknanya ialahz Ida
Sang Hyang Siwa memberikan waktu tidur, mengadakan
berbagai kehidupan yang asri dan baik, selurunya berada
dalam satu wilayah.
Samipya, merupakan kelanjutan dari Salokya. Kalau pada
salokya Ida Bhatara dibayangkan dalam satgu wilayah, maka
pada Samipya, Ida Bhatara Siwa dirasakan berada dekat
dengan kita. Caranya: setiap pagi memuja Ida Bhatara di
merajan . Rasakan beliau dengan kita. Iika berada di grya
tidak ada yang tangkil. Biasakan menulis atau membaca hal-

hal yang bersangkutan dengan Beliau. Kurangi nonton TV, menggosip dan lainnya yang tidak berguna
Sayujya, yang berarti setelah Beliau terasa dekat, lanjutkan dengan berlatih agar Beliau terasa melekat dengan diri kita. Caranya: setiap hari berbusana seperti Bcliau scperti: megelung rambut (gelung jata merupa Iingga), mesekar kalpika merupakan aliran tirtha amreta menetes melewati di

tengah alis (adnya cakra). Membawa teteken bila keluar. Mebasma bukan mawij a.
Sarupya, artinya kita adalah Beliau, Aham Brahman Asmi. Kita adalah paragon Ida (Siwa Paraga). Makanya ketika mapiyos menduduki paterana (lungka-lungka) yang merupakan simbul dari Cadhusakti, berbusana lengkap seperti Beliau. Menggunakan genta yang rnerupakan simbul senjata Ida, tersenyum cerah, berkata manis, yang mernbuat rasa senang bagi umat yang menyaksikan (agawe sukaning lcn). Selain itu, agar tetap melaksanakan sesana Siwa. Mampu memberikan pencerahan pada umat, dan menjadi teladan di masyarakat. Iangan mengambil pekerjaan yang bukan tugas Ida Pedanda. Seluruhnya di atas itu dasarnya adalah yoga (sumber rnakalah Ida Pedanda Gede Made Gunung).

4 KESIMPULAN
Moksa atau Mukti berarti kebebasan dari ikatan kedudiawian, bebas dari hukum kelahiran dan kematian. Moksa adalah tujuan Agama Hindu dan tujuan hidup

tertinggi. Moksa akan dicapai bukan saja setelah manusia mengakhiri hidupnya di dunia ini, tetapi juga ketika masih hidup di dunia ini.
Moksa dapat dicapai dengan pelaksanaan catur yoga dengan pcmbelajaran dan latihan melaui Panca yadnya. Untuk Ida Pedanda dapat dicapai dengan pelaksanaan Catur Rasa Prabawaning Siwa.

DAFTAR PUSTAKA
Oka Punia Atmaja, I B, 1992. The Hindu Ethics of Holy Veda as found in Bali. WHF Asean-South Pasific Zone. Iakarta. 194 hal. Phalgunadi, IGP. 2010. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu. PT Mabhakti. Denpasar. 80 hal.
PHDP. 1967. Upadesa. Ajaran-ajaran Agama Hindu. 108 hal. PHDI Pusat. 1998. Pedoman Pcmbinaan Umat Hindu Dharma Indonesia. Pt Upada Sastra. 83 hal.
Sugriwa, IGB. 1991. Dwijendra Tattwa. Upada Sasatra. 67 hal. Vivekananda. 1963. Suara Vivekananda. Yayasan Dharma Sarathi Iakarta. 114 hal.

8
SIWA TATTWA
Oleh:
Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten Bantang Bawos

Pagepuk Sastragama Sukra Mekemit 5 Februari 2016

kehidupan beragama di Bali seperti pelaksanaan yadnya (Agastia, 2002).
2. SIWA TATWA
AGAMA HINDU BALI

Dalam Paruman Para Wiku Loka Saba V Parisada Dharma Hindu Bali tentang identitas agama Hindu di Bali tanggal 28 Ianuari 2007 telah diputuskan Piagam Samuhan Tiga yang memuat cirri-ciri agama Hindu Bali sebagai berikut:
1. Dasar pelaksanaan agama mengacu pada Weda Sruti Weda Srnreti, Darsana, Tantra dan kearifan lokal yang disarikan ke dalam lontar-lontar.
2. Landasan keimanan (sradha) kepada Tuhan adalah Siwa
Tatwa dengan paham monisme (eka tua aneka tua swa
laksana bhatara).
3. Menyembah Tuhan (Sang Hyang Widhi) lebih khusus
disebut Bhatara Siwa, Dewa-dewi dan Hyang Leluhur.
4. Mempunyai tempat pemujaan yang disebut sanggah /pemerajan dan pura.
5. Melaksanakan upacara panca yadnya menggunakan banten dengan pakemnya yang khas dipimpin oleh wiku huwus
kertha diksita dan pemangku dengan atribut serta sesana
yang khas pula.

6. Agama Hindu yang menjadikan sosio-kultural Bali sebagai media pelaksanaannya.
Berikut akan diuraikan ciri Agama Hindu Bali yang ketiga yaitu tentang Siwa Tatwa

Siwa Tatwa
Indram mitrarn varuna agnim ahur atho divyah susuparno garutman, ekam sad vipra bahudha vadanty agnim yarnam rnatarisvanam ahuh Artinya:
Mereka menyembutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia
yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok. Satu itu
(Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama
seperti Agni, Yama, Matarisvan (Rg Weda I. 164.46)
Senada dengan hal di atas, dalam Siwatattwa, yaitu dalam Lontar Inanasiddhanta diuraikan sebagai berikut:
Sa eko bhagavan sarvah, Siva karana karanam, aneko viditah sarvah, catur vidhasya karanam, eka twa aneka twa swalaksana B-hattara Eka twa ngarannya, kahidep makalaksana ng Siwatattwa. Ndan tunggal, tan rwa tiga kahidepanira. Mangeka laksana Siwa karana juga, tan paprabheda
Aneka ngaranya kahidepan Bhattara makalaksana caturdha. Caturdha ngaranya laksananiran sthula, suksma, para, suniya.

Artinya
SifatBhat1‘ara adalah eka dan aneka. Eka (esa) artinya ia dibayangkan bersifat Siwatattwa. Ia hanya esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat esa saja sebagai

Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya Bhatara dibayangkan berszfat caturdha artinya
adalah sthula, suksma, para, sunya.
Dalam Wrhaspati Tattwa, sifat anekatwa Siwa ada dua yang disebut Cetana dan Acctana . Cetana adalah unsu kesadaran, dan Acetana adalah unsur ketidaksadaran (maya). Kedua unsur ini bersifat halus dan menjadi sumber segala yang ada.

Cetana ada tiga jenisnya yaitu Paramasiwa Tattwa (sunia), Sadasiwa Tattwa (para), dan Siwatma Tattwa (suksma), yang disebut dengan Cetana Telu, tiga tingkatan kesadaran. Ketiganya tidak lain adalah Sang Hyang Widhi sendiri yang telah berbeda tingkat kesadarannya. Paramasiwa memiliki tingkat kesadaran tertinggi, Sadasiwa menengah, dan Siwatma terendah. Tinggi rendahnya tingkat kesadaran itu tergantung pada kuat tidaknya pengaruh maya (stula) Paramasiwa bebas dari pengaruh maya, karena itu disebut Nirguna Brahman (sunia) dan disimbukan dengan nada (bintang). Paramasiwa kemudian kesadarannya mulai tersentuh oleh maya. Pada saat seperti itu, bcliau mulai terpengaruh oleh sakti, guna dan swabawa yang merupakan hukum kemahakuasaan Sang Hyang Widhi Sadasiwa. Beliau mcmiliki kekuatan untuk memenuhi segala kehendaknya, yang disimbulkan dengan windu (matahari).

Pada tingkatan Siwatma Tatttwa pengaruh maya demikian kuatnya menyebabkan kesadaran menjadi hilang karena ada belenggu awidya yang ditimbulkan oleh pengaruh maya. Hak ini rnenyebabkan Atma ada dalam lingkungan sorga-ncraka, samsara yang berulang-ulang.

Siwatma disimbulkan dengan arda candra (bulan sabit), dan maya

disirnbulakn dengan Okara (bumi)
Keseluruhan nada, windu, arda candm, dan okara menjadi aksara suci Omkara atau pranawa E. Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa adalah konsep tri purusa ajaran dari Dang Hyang Nirartha. Ajaran
ini kemudian berkembang menjadi panca srada, upacara panca yadnya, acara, dan susila agama Hindu yang berkembang di Bali dan Nusantara.
Siwa Tattwa dan Upacara Yadnya
Yadnya berasal dari akar kata yug, berarti mempersembahkan atau yac, permohonan. Yadnya tclah dilaksanakan dari zaman pra Weda, kebudayaan Sungai Sindu, zarnan Weda, Zaman Brahmana, Zaman Purana, dan seterusnya sampai kini. Sumber ajaran yadnya: dari Sruti dan Smrti
Upacara yadnya: adalah tattwa yang divisualkan mengambil bentuk tiga demensi atau fisika. Upacara adalah bagaimana mempelajari tattwa
Astamurti
Ajaran Siwa menempatkan Astarnurti Siwa sebagai konsepsi yang sangat penting, karena konsepsi ini berkaitan dengan pelaksanaan yadnya, dan Yajamana. Konsep Astamurti Siwa dari berbagai sumber dapat dirumuskan sebagai berikut (Agastia, 2002).

Matra Murti Nama
1 Bhuta Matra 1 Pretiwimurti Sarwa. Sadyojata 2 Ialamurti Bhawa, Wamadewa
3 Agnimurti Aghora
4 Wayumurti Ugra, Tatpurusa

5 Akasamurti Bhima, Asani
2 Prana Matra 6 Suryamurti Isana
7 Candramurti Mahadewa
3 Prajna Matra 8 Yajamana Hotri, Pasupati, Diksita,
murti Brahmana, atau Brahman
Konsepsi Astamurti antara lain ditemukan dalam Panca Mahabhuta Stawa, Atma Kunda Stawa dan Siwa Samuha.
Konsepsi Astamurti Siwa menjelaskan tentang kesatuan jagat raya yang dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu Bhuta Matra (pretiwi, apah atau jala, dan teja), Prana Matra (surya dan candxa) dan Prajna Matra (Yajamana atau Hyang Siwa).
Dari uraian singkat di atas maka Sang Yajamana lah yang menggerakkan yadnya cakra jagatraya, atau yang sesungguhnya melaksanakan yadnya agung jagat raya. Oleh karena itu dalam pelaksanaan yadnya bagi umat Hindu ditetapkanlah seorang Yajamana; dibantu oleh seorang Tapini yang menyiapkan berbagai bentuk upakara sebagai yantra atau candi banten; dan seorang pengrajeg karya yang bertugas menyiapkan segala kebutuhan material pelaksanaan yadnya tersebut (Agastia, 2002). '
Selanjutnya Siwa Tattwa berkaitan dengan Ida Pedanda rnepuja dikenal dengan Tri Tattwa yaitu: Siwa Tattwa, Widya Tattwa, dan Atma Tattwa. Hcneng adalah sifat buana agung yang menjadi Ongkara Ngadeg, saat Ida Pedanda mepuja menjadi berbagai bentuk banten. . Kemudian Hening adalah sifai buana alifr menjadi Ongkara Sungsang, adalah diri Sang Wiku saat mepuja, dasarnya ialah Atma

Tattwa. Pertemuan Heneng dengan Hening atau Widya Tattwa

dengan Atrna Tattwa menjadi Henung, yaitu Siwa Tattwa (Ida Pedanda Gede Made Gunung, 2015).
Siwa Tattwa dan Susila
Intisari susila (sesana) adalah tattwa. Sesana adalah tattwa yang diperagakan. Pcmahaman tattwa idealnya tercermin dalam sesana. Sesana adalah batas perilaku. Dengan sesana seorang Pedanda dihantar menuju Siwaloka.. Ajaran sesana ini dierlukan sekali di dalam pergaulan, interaksi 1<ita di tengah-tengah masyarakat yang heterogen.

Sastra agama yang memuat ajaran sesana mengajarkan agar sesana dibiasakan setiap hari agar kesucian (kepradnyanan) bisa terjaga dan dapat ditingkatkan. Ada sejumlah ajaran sesana yang rnenjadi pegangang para Pedanda, antara lain : Sarasamuschaya, Siwa Sesana, Wretti Sesana, Silakrama, Raj apati Gondala.

DAFTAR PUSTAKA
Agastia, IBG. 2002a. Astamurti Siwa: Yadnya dan Yajamana. Cintamani. Edisi N0 04/Thl/Februari 2002.
Agastia, IBG. 2002. Tattwa dan Penerapannya dalam Kehidupan Agama Hindu di Bali.. Cintamani. Edisi No 02/Thl/Februari 2002. Ida Pedanda Gede Made Gunung. 2015. Yuga Puja. 1 hal.. Madrasuta, N.M. 1998. Tattwa. Dalam WHD N0. 372. hal 7-8. PHDP. 1978. Upadesa, tentang Ajaran-ajaran Agama Hindu. 99 hal. PHDIP, 1988. Pedoman Pembinaan Umat Hindu Dharma Indonesia. PT Upada Sastra.83.

9 Kesan-Kesan
Yatra Arunachala 2016
Oleh: Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten
Bantang Bawos Pagepuk Sastragama Sukra Mekemit 4 Maret 2016

1 . KATA PENGANTAR
Om swastyastu
Berkat sinar kasih sayang yang mengalir tiada henti dari Bhatara
Siwa dan Bhatara Lelangit penulis dapat menyelesaikan tulisan yang sangat sederhana dengan judul Kesan-Kesan Yatra Arunachala 2016. Perjalanan spiritual, Yatra Arunachala 2016 berlangsung dari tanggal 21 Februari sampai tanggal 28 Februari 2016. Rombongan yatra berjumlah 40 orang dengan pedanda 16 orang termasuk Ida Pedanda Nabe, Ida Pedanda Gede Made Gunung sebagai “pinpinan” rombongan.
Tulisan ini bersumber dari wejangan Ida Pedanda Nabe dan pengalaman selama yatra berlangsung. Demikian kata pengantar penulis, semoga tulisan ini ada manfaatnya.
Om santhi, santhi, santhi Om.

2. SEKILAS KEBERADAAN ARUNACHALA DAN CANDI SIWA LAINNYA

Arunachala adalah sebuah gunung yang paling suci di antara ternpat- tempat suci lainnya di India. Sri Bhagawan Ramana Maharshi menyatakan bahwa gunung itu adalah jantung atau pusat spiritual dunia. Sementara, Sri Sankara menyataka bahwa tempat itu adalah Gunung Meru; dan The Skanda Purana menyatakan bahwa gunung itu adalah yang paling suci dan merupakan jantung dari dunia, jantung pusat Siwa.

Di kalci Gunung Arunachala terdapat Asram Sri Ramana ( Sri Ramana Ashram) yang luasnya hektaran. Di clalam asram itu terdapat ruang dan areal penting antara lain sepcrti: ruang makan bersama, nlang puja, ruang meditasi, ruang perpustakaan, ruang rnesium, areal komunikasi, areal peternakan sapi, ruang penginapan (di seberang jalan). Melengkapi asram ini terdapat dua buah gua rneditasi yang berlokasi di lereng gunung Arunachala.
Cara penyajian makanana sama untuk siapapun yaitu dengan alas daun pisang (seperti daun tlunjungan). Secara horizontal Pedanda dibedakan dengan merayunan di atas meja dan gelas plastic sukla. Ienis rnakanannya adalah satwika, bergizi, dan haigenis.

Kegiatan puja terhadap Siwa di ruang puja dilaksanakan dengan tertib waktu baik pagi maupun sore. Disiplin dan penuh persahabatan. Tcrcatat dalam sejarah diruang ini sempat dikumandangkan Dang Hyang Dwijendra Stawa dan Dang Hyang Astapaka Stawa oleh rombongan Bali yang disambut dengan sukacita dan penuh persahabatan oleh para bakta lainnya yang bcrasal dari berbagai Negara. 

Ruang meditasi dibuka mulai jam 04.00 waktu setempat. Penulis dan kawan-kawan sempat meditasi di mang ini mulai jam 04.30. Hal yang patut dicatat bahwa di ruang meditasi "mi dan sekitarnya sama sekali tidak diperkenankan berbicara.

Di areal komunikasi terasa sangat damai sekalipun pakaian, bahasa, dan orangnya berbcda namun semua saling menghormati. Bahkan burung merak, kera, anjing, dan manusia saling bersahabat. Di areal ini juga merupakan tempat untuk memberikan makan secara gratis bagi siapa saja.

Dua kuil (tample) untuk pemujaan Siwa yang tidak kalah pentingnya yang sempat dikunjungi ialah Annamalaiyar Temple, dan Sri Puram- The Golden Temple. Komplek Annamalaiyar Tempel seluas 10 ha, dengan empat candi utama dengan tinggi 66 m. Siwa di sini disimbulkan dengan Lingga yang terletak di tengah candi mirip di tengah goa.

Sesuai dengan namanya The Golden Temple, kuil ini seluruhnya dilapisi emas (berton-ton emas) Kuil ini diplaspas tanggal 24 Agustus 2007. Sejak itu candi ini telah menarik ratusan ribu umat untuk berkunjung ke sana. Di sini juga Siwa di puja dalam bentuk Lingga. Dalam tahun—tahun mendatang candi ini diharapkan dapat memberi pengaruh positif bagi umat manusia.

3. BERMAIN CINTA DI ARUNACHALA
Arunacala. Aruna berarti air laut atau wawasan. Cala berarti gunung. Iadi Arunacala berarti membuka wawasan atau pikiran terhadap Siwa. Untuk membuka pikiran ada dua syarat yaitu: cinta dan teman. Cinta tanpa teman berarti banyak musuh. Teman tanpa cinta berarti kekerasan. _
Teman adalah bumi dan cinta adalah langit..Ida Pedanda Nabe telah

tiga kali ke Arunacala namun belum puas. Penduduk Arunacala, India Selatan mempunyai keyakinan bahwa Arunacala merupakan

puncak/ujung mahameru yang dipindahkan. Saat dipindah ada batu- batu yang tercecer membentuk bukit-bukit batu yang, tampak saat perjalanan menuju Arunacala.
Agar ada rasa dalam yatra atau pendakian spiritual ini, modalnya adalah keyakinan. Yakin dengan apa yang dilakukan, yakin pada diri sendiri, selanjutnya yakin dengan yang ada di luar kita.

Arunacala adalah sebuah tempat yang sangat dicintai, setiap hari ada pemujaan Siwa. Iangan terlebih dahulu menilai makanan atau lingkungan Arunacala yang berbeda. dengan di Bali. Terpenting adalah menilai diri sendiri. Kita ibarat merekam berbagai peristiwa kerohanian, yang selanjutnya diputar di rumah masing—masing.

Ada kesan cara makan dan makanan menjadi penilaian. Konsep makanan adalah Tat Twam Asi. Penyajian makanan untuk welaka dan Pedanda memang sama dalarn arti vertikal. Akan tetapi secara horizontal berbeda.

Coba renungkan. Banyak sekali manusia dikalahkan hewan. Kita perlu kemampuan berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan pengunjung dari berbagai ncgara. Akan tetapi sapi bisa langsung berkomunikasi walaupun asalnya berbeda.

Untuk lebih merasakan keberadaan Arunachala kita harus
bisa bermain cinta. Yaitu cinta terhadap Atma, Trikaya, dan Stula (fisik).

4. TEKNIK BERCINTA
Bakti mating Sang Hyang Atma, Tresna maring Trikaya, Asih mating Stula SaritaYan mikayunan suksman utawi smrerti pengajah tri hita karana, kawitin saking tri hita karana maring angga sarim rumuhun sane kaucap tri hita karana maring  buana alit. Wawu tri him karana maring buana agung, wawu keni unteng rasa.

Sang Hyang Atma maka parahyangan, trikaya maka pawongan, stula sarira pinaka palemahan. Dwaning asapunika sapunapi pemargine nyambung bhakti maring Sang Hyang Atma, nyambung tresna
maring trikaya, taler asih maring stula sarira puniki sane pinih mebuat. Sedereng uning kadi inucap ring ajeng, during mewasta pascat maring smertin tri hita karana, napi malih pacang ngemargiang daging ipun, wawu kebawos sewates wacana kemawon. Cinta didalam Pengamalan Nilai-nilai Luhur Tri Hita Karana di BuanaAli

Cinta dalam arti kebebasan, keindahan, pelayanan, kesabaran dst. Atman (parahyangan di dalam diri), terkekang terbelenggu oleh karma wasana, maka sebutannya menjadi roh. Bercinta dengan Atman artinya, kita harus mampu membebaskan dari belenggu karma wasana, menyatu dengan keindahan sejati (suka tanpa wali duka), layani dengan dharma penuh kesabaran, ketulusan dan penuh kesadaran. Prakteknya ialah jangan membicarakan kejelekan orang lain; jangan menyalahkan orang lain.

Tri Kaya (pawongan di dalam diri), kita berusaha membebaskan trikaya mernbawanya ke alam trikaya parisuda dengan jalan selalu dilandasi dengan susila (karma phala/dasa sila).

Stula Sarira (palernahan dalam diri) selalu menjaga, mengayomi dengan jalan mengatur makan/minum satwika, jauhi arak, ‘alcohol dan rokok; berolah raga yang cukup; dan istirahat yang cukup.

5 KESAN-KESAN
Yatra Arunachala 2016 telah banyak memberikan kesan-kesan positif seperti berikut.
Agar ada rasa dalam yatra atau pendakian spiritual itu, modalnya adalah keyakinan. Yakin dengan apa yang dilakukan, yakin pada diri sendiri, selanjutnya yakin dengan yang ada di luar kita. Arunacala berarti membuka wawasan atau pikiran terhadap Siwa. Untuk membuka pikiran ada dua syarat yaitu: cinta dan teman. Cinta tanpa teman berarti banyak musuh. Teman tanpa cinta berarti kekerasan. Untuk lebih merasakan keberadaan Arunachala kita harus bisa bermain cinta, yaitu cinta terhadap Atman, Trikaya, dan Stula (fisik). Dalam hal bercinta mulailah dengan menyayangi stula sarira yaitu selalu menjaga, dan mengayominya dengan jaian mengatur makan/minum satwika, jauhi arak, alkohol dan rokok; berolah raga yang cukup; dan istirahat yang cukup. Apa yang dilihat dan dialami selama Yatra Arunachala 2016 seperti makanan satwika, pergaulan , meditasi, dan puja sesungguhnya sudah ada di rumah, di grya masing-masing dalam bentuk mini yang penting adalah bagaimana prakteknya.

Yatra Arunachala 2016 telah berjalan dengan baik dan lancar, serta memberikan rasa damai seperti yang diinginkan oleh seluruh umat manusia.

10. Kesimpulan dan Saran

Dari berbagai materi yang terdapat pada bab-bab sebelumnya dapat ditarik beberapa kesimpulan dan saran seperti berikut:

  1. Ajaran sang Siddha Wagiswara dari Dang Hyang Nirartha merupakan pengetahuan suci, pengetahuan utama, pengetahuan jati diri atau kesadaran Siwa (wa sitwa Siwa digamana) yang dilambangkan dengan bunga teratai (padma).
  2. Kasih sayang (sih) adalah pancaran kesadaran Siwa atau spiritualitas yang dilambangkan dengan sinar bulan (suksmaning sih jrorzing sasih).
  3. Landasan keimanan (sradha) agama Hindu Bali kepada Tuhan adalah Siwa Tattwa dengan paham monisme (eka tua aneka tua swa laksana bhatara).
  4. Upacara Panca yadnya adalah bentuk tiga demensi dari Siwa Tattwa yang merupakan media pembelajaran beretika dan bertattwa.
  5. Susila, spiritualitas adalah penerapan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari baik kepada Siwa (Tuhan), lingkungan, masyarakat maupun diri sendiri (badan dan pikiran)
  6. Rangkaian brata Siwaratri yang diawali dengan mohon ijin/petunjuk pada Sulinggih, yang dilanjutkan dengan upawasa, mona brata dan pemberian punia merupakan suatu pembelajaran atau renungar. tentang Siwa Tatwa dan kesadaran Siwa. Renungan suci in; hendaknya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari (spiritual) untuk mencapai kesadaran Siwa.
  7. Moksa atau Mukti berarti kebebasan dari ikatan kedudiawian, bebas dari hukum kelahiran dan kematian. Moksa adalah tujuan Agama Hindu dan tujuan hidup tertinggi. Moksa akan dicapai bukan saja setelah manusia mengakhiri hidupnya di dunia ini, tetapi juga ketika masih hidup di dunia ini.
  8. Moksa dapat dicapai dengan pelaksanaan catur yoga dengan pembelajaran dan latihan melaui Panca yadnya. Untuk Ida Pedanda dapat dicapai dengan pelaksanaan Catur Rasa Prabawaning Siwa.
  9. 4 Dalam hal bercinta (kasih sayang) mulailah dengan menyayangi stula sarira (badan) yaitu dengan selalu menjaga, dan mengayorninya dengan jalan mengatur makan/minum satwika, jauhi arak, alcohol dan rokok; berolah raga yang cukup; dan istirahat yang cukup.

TENTANG PENULIS
IDA PEDANDA GEDE WAYAHAN KENITEN
Lahir dengan nama Ida Bagus Oka pada tanggal 16 Maret 1947 di Griya Tengah, Banjar Sengguhan, Klungkung, Bali. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar/SD) di Klungkung tahun 1960. Selanjutnya menyelesaikan pendidikan menengah dan atas di SMP Klungkung tahun 1963 dan di SMA Denpasar tahun 1966. Gelar Sarjana Muda (B.Sc) diraih di Fakultas Pertanian, Universitas Udayana (UNUD) Denpasar tahun 1971. Pada tahun 1976—1977 memperoleh beasiswa dari pemerintah Republik Indonesia, untuk mengikuti Program Afiliasi di Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor. Penulis menyelesaikan studi Starata-1 dengan gelar Insinyur (Ir.) di Fakultas Pertanian UNUD Denpasar tahun 1978 dan dilanjutkan dengan menyelesaikan program Strata-2 (Magister) di Program Pasca Sarjana IPB Bogor tahun 1981 dan menyelesaikan program Strata-3 dengan gelar Doktor (Dr) di Program Pasca Sarjana UNPAD Bandung tahun 2002. Tahun 1971 penulis diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Fakultas Pertanian UNUD, dan pada tahun 2004 memperoleh Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden Republik Indonesia. Tahun 2006 sebagai dosen Kopertis Wilayah VIII dpk. pada Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, dan tahun 2010 diangkat dalam jabatan akademik sebagai Guru Besar.

Tahun 2005 penulis mediksa dengan amari aran Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten. Penulis aktif sejak awal sampai sekarang dalam kegiatan yoga Samadhi Traya Sandhi (2013) dan Pagepuk Sastragama Sukra Makemit (2015); anggota tutor Pendidikan Kawikon (2016) ,dan Pembekalan Calon Pranda (2015 sampai sekarang) di Pasraman Dharma Wasitha, Mas, Ubud, Gianyar.

Mari berkomentar





CAPTCHA Image
Reload Image